Pidato BJH : Bacharuddin Jusuf Habibie

13 Tahun PNM:
Menggapai Kesejahteraan dengan Peningkatan
Lapangan Kerja dan Produktivitas SDM
Bacharuddin Jusuf Habibie
Peringatan Ulang Tahun ke-13
PT Permodalan Nasional Madani

Jakarta, 2 Juni 2012
Catatan awal

Beberapa pertanyaan:

1. Bagaimana profil dan keadaan pelaku ekonomi Indonesia?:
apakah sudah proporsional ataukah masih ada ketimpangan?
bagaimana kontribusi mereka thd ekonomi nasional?
bagaimana kontribusi mereka thd penyediaan lapangan kerja?

2. Benarkah ekonomi kita dalam keadaan paradoksal?
apa penyebabnya?
bagaimana mengoreksinya?

3. Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap ekonomi nasional?
seperti apa keadaan nyata saat ini?
bagaimana seharusnya kita merespon globalisasi?

Apa yang harus dilakukan PNM dalam ikut menyelesaikan
masalah-masalah tersebut?
2
Kesenjangan Lapangan Pekerjaan (1/3)

Kesempatan Kerja yang disediakan oleh:
1. Usaha Kecil & Mikro (UK&M)

88,92%

2. Usaha Menengah (UM)

10,54%

3. Usaha Besar (UB)


0,54%

Nilai Tambah dlm perekonomian nasional:

1. Usaha Kecil & Mikro (UK&M)
43,42%

2. Usaha Menengah (UM)

15,42%

3. Usaha Besar (UB)


44,90%

Nilai Tambah pro Kesempatan Kerja:

1. Usaha Kecil & Mikro (UK&M) 0,4883 (1)

2. Usaha Menegah (UM)

1,4630 (3xUK&M)

3. Usaha Besar (UB)


83,1481 (170xUK&M)
3
Kesenjangan Lapangan Pekerjaan (2/3)

Usaha Kecil & Mikro dan Usaha Menengah menyediakan 99,46
% lapangan kerja.

Lapangan kerja yang disediakan oleh Usaha Besar hanya 0,54%.

BPD dalam perekonomian nasional:
44,9% hasil Usaha Besar;
55,1 % hasil UK&M dan UM.
4
Kesenjangan Lapangan Pekerjaan (3/3)

Perbandingan Nilai Tambah yang dihasilkan tiap lapangan
kerja oleh UK&M : UM : UB = 1 : 3 : 170, yang
mencerminkan adanya:

kesenjangan kualitas SDM,
kesenjangan pendidikan,
kesenjangan produktivitas, dan
kesenjangan IPTEK.
Kesenjangan tersebut harus dikoreksi karena mengakibatkan
jurang antara miskin dan kaya melebar dan menghambat
daya saing.


5
3 Paradoks

kita KAYA tapi MISKIN
[kekayaan SDA melimpah, tapi miskin penghasilan]
kita BESAR tapi KERDIL
[amat besar wilayah & penduduknya, tapi kerdil dalam
produktivitas dan daya saingnya]
kita MERDEKA tapi TERJAJAH
[merdeka secara politik, namun terjajah secara ekonomi]

Penyebab keadaan Paradoks

Kita lebih mengandalkan SDA daripada SDM
Kita lebih berorientasi jangka pendek daripada jangka panjang
Kita lebih mengutamakan critra & berwacana daripada karya
nyata
Kita lebih melirik makro daripada mikro ekonomi
Kita lebih mengandalkan cost added daripada value added (more
comparative rather than competitive advantages)
Kita lebih berorientasi pada neraca perdagangan & pembayaran
dan cenderung mengabaikan neraca jam kerja
Koreksi keadaan Paradoks
Orientasi yg SAKIT
Orientasi yg SEHAT
lebih mengutamakan SDA
lebih mengutamakan SDM
daripada SDM
daripada SDA
lebih berorientasi jangka
lebih berorientasi jangka
pendek
panjang
lebih banyak berwacana
karya nyata, just do it!
makro >> mikro ekonomi
makro ~ mikro ekonomi
cost-added >> value-added
cost-added << value-added
neraca perdagangan &
neraca perdagangan ~
pembayaran >> jam kerja
pembayaran ~ jam kerja
Globalisasi, Pasar dan Kepentingan
Nasional (1/4)
keadaan nyata
saat ini
!!
Globalisasi, Pasar dan Kepentingan
Nasional (2/4)
situasi yg SEHARUSNYA
situasi IDEAL di masa
terjadi
mendatang
(sbg negara berkembang)
(sbg negara maju)
Globalisasi, Pasar dan
Kepentingan Nasional (3/4)

Pertanyaan untuk kita renungkan:
Bagaimana SDM dapat berkembang dan menjadi unggul
kalau karya dan produksinya tidak dibina sedini mungkin
dan harus bersaing dengan produksi masyarakat lain
yang maju?

Sadarkah kita bahwa dalam produk impor tersembunyi
jam kerja masyarakat lain?
Bagaimana membiayai proses pembudayaan dan
pendidikan SDM jika modal SDA sudah dikuasai oleh
jaringan investor negara lain?

Globalisasi, Pasar dan
Kepentingan Nasional (4/4)

Bagaimana daya saing dan produktivitas SDM Indonesia
dapat ditingkatkan kalau lapangan kerja tidak
diperhatikan oleh masyarakatnya sendiri?

Akankah kita biarkan masyarakat Indonesia terus
menkonsum hasil karya nilai tambah masyarakat lain,
karena karya nilai tambah sendiri tidak diperhatikan dan
dibina?

Globalisasi: Neraca Perdagangan,
Pembayaran & Jam Kerja (1/3)
Perdagangan
Pembayaran
Orientasi kita pd
neraca
perdagangan &
pembayaran tapi
MENGABAIKAN
neraca jam kerja
Globalisasi: Neraca Perdagangan,
Pembayaran & Jam Kerja (2/3)
Perdagangan
Pembayaran
Jam Kerja
Belajar dari Bangsa Lain (3/3)
Jangan sampai proses globalisasi berkembang menjadi
jaringan neo kolonialisme sebagai adikuasa-adikuasa baru!
(Jangan sampai terjadi VOC- gaya baru di Indonesia!)
Membeli produk apa pun yang dibuat di dalam negeri berarti
mengembangkan lapangan kerja atau jam kerja yang kita
butuhkan.
Tiap investor di Indonesia yang memproduksi komoditas nilai
tambah pasar nasional, regional dan global akan membantu
proses pemerataan wajar diberikan insentif.
Tiap impor produk yang dapat melemahkan proses
pemerataan harus dihindari atau bahkan dipersulit
pelaksanaan (desinsentif).

Teori & Pendekatan Pembentukan Modal
Teori harus didasarkan pada filsafat dan realitas alami oleh
karenanya, teori memiliki kendala awal (initial condition)
dan kendala batasan (boundary condition) yang tergantung
pada tempat dan waktu.
Kesejahteraan, kualitas hidup dan ketentraman diidamkan
semua orang, dan telah diaksanakan beberapa model:
Pendekatan top down atau dari yang kaya ke yang miskin, sistem
kapitalisme.
Pendekatan buttom up atau dari yang miskin (proletar) ke yang
kaya, sistem komunisme.
Pendekatan dari tengah ke atas (push up) maupun ke bawah (pull out)
pasar yang berorientasi pada nilai-nilai sosial (Soziale
Marktwirtschaft
)
Pembentukan Modal Utama (model top down)
goods
goods
goods
Pendekatan
kapitalistik
trickle down effect
Pembentukan Modal Utama (model buttom up)
Pendekatan
goods
komunistik
goods
goods
buttom up process
Pembentukan Modal Utama (model madani)
PUSH UP
process
ke atas
masyarakat
ke tengah
madani
PULL OUT
ke bawah
process
Pendekatan Soziale
Pendekatan

Marktwirtschaft

Pendekatan

MADANI
PULL OUT & PUSH UP
Pendekatan mana yang kita pilih?
Sejarah membuktikan:
pendekatan buttom up diakhiri dengan bangkrutnya
masyarakat penganut pendekatan tersebut
pendekatan top down: jika tidak diadakan koreksi yang
mendasar, akan menuju proses kebangkrutan pula.
Kita harus belajar dari kesalahan dan kekeliruan orang lain
dan kekeliruan kita sendiri.
Pendekatan mana yang kita pilih?
Bukan masyarakat harus berubah menyesuaikan cita-citanya
dengan berbagai teori telah dikembangkan oleh para ilmuwan
tetapi sebaliknya:
Para ilmuwanlah yang harus merubah pendekatan untuk
disesuaikan dengan keadaan lingkungan (nasional dan
global) yang terus berubah tanpa mengorbankan cita-cita kita
sendiri.
Kita harus memperhatikan dan memprioritaskan kepentingan
rakyat Indonesia sendiri, sebagai bangsa yang bermartabat,
yang sedang berjuang menuju cita-cita, dengan berbagai
keterbatasan yang ada.
13 Tahun PNM: kita syukuri
Kita bersyukur bahwa banyak sekali prestasi yang telah dicapai
selama 13 tahun PNM, antara lain:

Telah mampu mengembangkan kelembagaan organisasi dan
jaringan kerja yang hampir mencakup seluruh tanah air,
ilustrasi:


2008 2009 2010 Mar 2012
Jml Unit ULaMM
12
184
260 477
Jangkauan Layanan
50
740
1.000 2,247 (kecamatan)
Penyaluran Dana
11
926
2.381 5.214 (Rp. Miliar)
UK&M terlayani

267
13.021 39.848 88.508
Penyerapan Naker
880
74.080 173.813 442.540

Dan sebagainya, dan sebagainya . . . . .
13 Tahun PNM: What next?
Apa agenda PNM ke depan?
Agenda makro (eksternal): partisipasi secara dalam ikut
memecahkan berbagai permasalahan ekonomi nasional
(ketimpangan, paradoks, ekses globalisasi, dsb)

Agenda mikro (internal): meningkatkan dan
mengkonsolidasikan sumberdaya manusia,
kelembagaan/jaringan dan kegiatan PNM dalam rangka
memenuhi misi yang diemban PNM

13 Tahun PNM: What next?
Agenda Makro (eksternal):
1.Meningkatkan kuantitas, kualitas dan kemampuan pelaku usaha kecil dan
mikro dalam rangka menyeimbangkan peran pelaku usaha di Indonesia
secara proporsional dan berkeadilan

2.Melakukan berbagai upaya pengembangan program dalam rangka ikut
merealisasikan pendekatan madani (pull-out & push-up
).
3.Ikut berperan aktif dalam menyehatkan realitas paradoks ekonomi yang
ada, antara lain dengan:

menumbuhkan mind-set yang mengutamakan: kualitas SDM, pentingnya value
added

Ikut menumbuhkan tersedianya lapangan kerja dan melakukan gerakan Rebut Jam
Kerja!

dan sebagainya.
4.Melakukan berbagai inovasi produk komoditas UK&M yang memppunyai
nilai tambah bagi pasar nasional, regional dan global dalam rangka membantu
proses pemerataan

13 Tahun PNM: What next?
Agenda Mikro (internal):
1. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang
memiliki integritas tinggi dalam mendukung pertumbuhan
dan kemajuan PNM

2. Peningkatan pelayanan yang didukung oleh kesiapan dan
kehandalan sistem IT
3. Pencarian sumber-sumber pendanaan baru
4. Pengembangan sistem manajemen risiko secara
komprehensif yang meliputi risiko kredit, risiko pasar
maupun risiko operasional

5. Penguatan sistem pengendalian internal

Akhirnya . . . . . .
Kita yakin bahwa masa depan bangsa ditentukan
oleh keunggulan sumberdaya manusia Indonesia
Kita yakin karena kita:
Memiliki nilai-nilai budaya yang luhur
Memiliki nilai-nilai agama yang suci
Mampu menguasai mekanisme pemgembangan dan
penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih
Kita telah memiliki prasyarat merdeka dan bebas
untuk masa depan yang lebih sejahtera, tentram
dan cerah merata bagi semua


Terima kasih
Selamat Ulang Tahun ke-13
Semoga tetap berjaya dan berprestasi
di masa depan

Leave a Reply