PIDATO PENGAMAT PENDIDIKAN : Karakter Butuh Keteladanan

Pengamat: Pendidikan Karakter Butuh Keteladanan

Ditulis Pada: 22 May 2011 Pukul 9:05 pm

Medan, 22/5 (ANTARA) Pengamat sosial dari Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Ansari Yamamah MA mengatakan, pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah hanya akan berhasil jika rakyat mendapatkan contoh dan keteladanan dari kalangan pemimpin.

Tanpa keteladanan, pendidikan karakter akan sia-sia, katanya di Medan, Minggu, menanggapi pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengingatkan para pendidik untuk mementingkan pendidikan karakter.

Menurut Ansari, imbauan Presiden Yudhoyono itu layak diapresiasi karena sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa.

Apalagi jika dikaitkan dengan fenomena masyarakat di tanah air yang selama ini terkesan telah kehilangan karakter dan jati diri sebagai bagian dari bangsa yang pancasilais dan agamis.

Namun upaya pemerintah yang disampaikan Presiden Yudhoyono itu sangat sulit untuk direalisasikan jika rakyat tidak mendapatkan contoh dan keteladanan dari kalangan pemimpinnya.

Keteladanan yang dimaksudkan bukan hanya dari kalangan pemimpin di eksekutif, melainkan juga di legislatif dan elit politik, praktisi pendidikan, dan tokoh masyarakat lainnya.

Bagaimana rakyat bisa belajar tetang karakter bangsa jika kalangan pemimpin, politisi, dosen, dan gurunya tidak memberikan contoh dan keteladanan, katanya.

Semuanya hanya akan sia-sia dan bohong besar kalau tidak ada keteladanan, kata alumni Leiden University Belanda itu.

Selain keteladanan, kata Ansari, pemerintah juga perlu menggiatkan kembali kearifan lokal yang selama ini cukup sukses membina kehidupan masyarakat.

Ia mencontohkan konsep Dalihan Na Tolu di Sumut, Pela Gandong di Maluku, dan Sintuhu Maroso di Sulawesi.

Berbagai konsep kearifan lokal itu sangat berkarakter dan perlu disosialisasikan lagi, katanya.

Sebelumnya, dalam pidato pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan para pendidik untuk mementingkan pendidikan karakter, bukan sekadar kepintaran ilmu pengetahuan kepada para siswa.

Sesungguhnya, karakter manusia yang akhirnya menjadi karakter bangsa, ujarnya.

Kepala Negara mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengimplementasikan tema peringatan Hari Pendidikan Nasional 2011 yaitu Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa.
Untuk menjadi bangsa yang unggul, Presiden menyebutkan setidaknya ada lima hal yang harus dilakukan oleh Bangsa Indonesia.

Lima hal itu manusia yang bermoral, berpengetahuan, dan beradab, serta cerdas dan rasional.

Setelah itu kreatif fan inovatif, kreatif, dan mau bekerja keras untuk mengubah keadaan.

Hal keempat menurut Presiden adalah manusia Indonesia yang harus memperkuat semangat untuk selalu bisa untuk meraih kemajuan.

Sedangkan hal kelima adalah manusia Indonesia harus menjadi patriot sejati yang mencintai bangsa, negara, dan tanah air.

Leave a Reply