Teks Pidato Agama Islam M.R.fikri Xa

( )

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah swt atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya, kita masih diberikan kesehatan hingga detik ini.Shalawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada nabi besar Muhammad saw yang telah membawa agama Islam dari jaman jahiliyah sampai dengan jaman sekarang ini.

Teman-teman,

Dalam pidato singkat ini saya Muhammad Rausyan Fikri,akan sedikit membahas bersama tentang jma. Dewasa ini kaum muslim banyak yang masih belum memahami dan mengerti hukum-hukum yang digunakan sebagai dasar dalam menyelesaikan suatu perkara hukum. Sayangnya hal hal seperti Ijma,Qiyas,Al-quran,Hadits sudah tidak asing terdengar ditelinga kita,namun hanya seperti slogan yang tidak dimengerti makna dan fungsinya. Sehingga hal ini masih diperdebatkan oleh para cendikiawan muslim.

Dalam menyelesaikan suatu perkara hukum,islam memiliki cabang ilmu yang disebut ushul fiqih yang terbagi menjadi 10 bagian,dimana 4 diantaranya yang dapat kita pakai sebagai dasar hukum sedangkan 6 lainnya kita pakai sebagai sumber hokum rujukan/tambahan yang karnanya masih diperselisihkan. 4 sumber yang kita pakai sebagai sumber dasar adalah Al-Quran, Hadits, Ijma dan Qiyas. Ijma memiliki arti sependapat/kesepakatan sedangkan qiyas memiliki arti menyamakan/membandingkan.

Ijma secara etimologi artinya kesepakatan/sependapat sedangkan menurut terminologi artinya kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara.

Kedudukan Ijma adalah sebagai salah satu dasar yang menjadi sumber rujukan, pedoman dan sumber dasar hukum syariat yang mulia ini setelah Al Qur`an dan Sunnah. Ijma bersumber dari Al Qur`an dan Sunnah, menjadi penguat kandungan keduanya dan penghapus perselisihan yang ada diantara manusia dalam semua perselisihan mereka.

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: Ijma adalah sumber hukum ketiga yang dijadikan pedoman dalam ilmu dan agama, mereka menimbang seluruh amalan dan perbuatan manusia baik batiniyah maupun lahiriyah yang berhubungan dengan agama dengan ketiga sumber hokum ini. (lihat Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, Khalid al-Mushlih hal. 203)

Ijma pun memiliki dalil dalil :

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mumin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. An-Nisaa 4:115)

Sesungguhnya ayat ini menjadi dalil bahwa Ijma’ ummat ini adalah hujjah yang terpelihara dari kesalahan. Dasar pemikiran tersebut adalah dikarenakan Alloh swt mengancam orang yang menyelisihi jalan kaum mukminin dengan kehinaan dan api neraka. Sabilul Mu’minin (jalan orang-orang yang beriman dalam ayat diatas) berbentuk tunggal mudof (disandarkan) mencakup seluruh hal yang dianut oleh orang-orang beriman, baik berupa aqidah maupun amal perbuatan. Apabila mereka sepakat untuk mewajibkan, menganjurkan, mengharomkan, memakruhkan atau membolehkan sesuatu, maka ini adalah jalan mereka. Dan barangsiapa yang menyelisihinya, setelah tercapainya kesepakatan mereka, maka ini berarti ia mengikuti jalan selain jalan mereka.

Adapun hadits tentang ijma:

Umatku tidak akan berkumpul (sepakat) diatas kesesatan.(HR.Tirmidzi dan Abu daud)

Macam-Macam ijma

Ijma’ umat terbagi menjadi dua:

Ijma’ Qauli, yaitu suatu ijma’ di mana para ulama’ mengeluarkan pendapatnya dengan lisan ataupun tulisan yang meneangkan persetujuannya atas pendapat mujtahid lain di masanya.

Ijma’ Sukuti, yaitu suatu ijma’ di mana para ulama’ diam, tidak mengatakan pendapatnya. Diam di sini dianggap menyetujui.

Menurut Imam Hanafi kedua macam ijma’ tersebut adalah ijma’ yang sebenarnya. Menurut Imam Syafi’i hanya ijma’ yang pertama saja yang disebut ijma’ yang sebenarnya.

Selain ijma’ umat tersebut masih ada macam-macam ijma’ yang lain, yaitu:

Ijma’ sahabat

Ijma’ Khalifah yang empat

Ijma’ Abu Bakar dan Umar

Ijma’ ulama Madinah

Ijma’ ulama Kufah dan Basrah

ijma’ itrah (golongan Syiah)

Adapun rukun ijma dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara .

Kesepakatan itu dapat dikelompokan menjadi empat hal:

1. Tidak cukup ijma dikeluarkan oleh seorang mujtahid apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa. Karena kesepakatan dilakukan lebih dari satu orang, pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain.

2. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara dalam suatu masalah, dengan melihat negeri, jenis dan kelompok mereka. Andai yang disepakati atas hukum syara hanya para mujtahid haramain, para mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu Sunnah, Mujtahid ahli Syiah, maka secara syara kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma. Karena ijma tidak terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa.

3. Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan dalam bentuk perkataan, fatwa atau perbuatan.

4. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid. Jika sebagian besar mereka sepakat maka tidak membatalkan kespekatan yang banyak secara ijma sekalipun jumlah yang berbeda sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka tidak menjadikan kesepakatan yang banyak itu hujjah syari yang pasti dan mengikat.

Tidak sembarang orang dapat menjadi mujtahid

Mujtahid hendaknya sekurang-kurangnya memiliki tiga syarat:

Syarat pertama, memiliki pengetahuan sebagai berikut:

Pertama. Memiliki pengetahuan tentang Al Quran.
Kedua, Memiliki pengetahuan tentang Sunnah.
Ketiga, Memiliki pengetahuan tentang masalah Ijma sebelumnya.

Syarat kedua, memiliki pengetahuan tentang ushul fikih.

Syarat ketiga, Menguasai ilmu bahasa.

Demikianlah Allah Taala menyatukan hati umat ini dengan Ijma sebagai rahmat dan karunia dariNya. Ijma umat ini dalam mayoritas dasar dan pokok agama dan banyak dari masalah furunya menjadi sebab kesatuan kaum muslimin, penyempitan lingkaran perselisihan dan pemutus perbedaan pendapat diantara orang yang berbeda pendapat.

Oleh karena itu,wajib bagi orang yang ingin selamat dari ketergelinciran dan kesalahan untuk mengetahui ijma (konsensus) kaum muslimin dalam permasalahan agama agar dapat berpegang teguh (komitmen) dan mengamalkan tuntutannya setelah benar-benar selamat dari penyimpangan (tahrif) dan memastikan kebenaran penisbatannya (penyandarannya) kepada syariat serta tidak dibenarkan menyelisihinya setelah mengetahui ijma tersebut.

Sekian dari saya ,mohon maaf atas segala kesalahan saya,yang benar datangnya dari Allah swt yang salah datang dari diri saya.terima kasih atas perhatiannya.

Wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Leave a Reply