Pidato Kenegaraan Presiden Soeharto Di Depan Sidang DPR GR

PIDATO KENEGARAAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DJENDERAL SOEHARTO
DI DEPAN SIDANG DPR-GR
16 AGUSTUS 1969

REPUBLIK INDONESIA

Presiden Republik Indonesia Djenderal Soeharto

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

Saudara Ketua dan para Wakil Ketua M.P.R.S;
Saudara Ketua dan para Wakil Ketua DPR-GR;
Saudara-saudara
Ketua
Mahkamah
Agung,
Ketua
Dewan Pertimbangan Agung dan Ketua Badan Pemeriksa
Keuangan;
Sidang Dewan Perwakilan Rakjat jang terhormat;
Saudara-saudara sekalian;
Hari ini, Dewan Perwakilan Rakjat Gotong Rojong
telah membuka masa sidang untuk tahun 1969/1970.
Seperti jang telah disetudjui oleh Dewan, sedjak

tahun ini, Tahun Anggaran telah kita robah: mulai
tanggal 1 April sampai dengan tanggal 31 Maret
tahun berikutnja.
Karena itu, Saudara Ketua, pada kesempatan ini
– berbeda dengan tahun-tahun sebelumnja – saja tidak
akan menjampaikan pendjelasan jang berhubungan de-
ngan Rantjangan Anggaran Pendapatan dan Belandja
Negara.
Sidang jang terhormat;
Seperti halnja tradisi jang telah kita rintis
sedjak tahun 1967, idjinkan saja, menggunakan kesem-
patan ini untuk sekaligus berbitjara dengan seluruh
Rakjat Indonesia.
Dalam kesempatan sematjam ini saja ingin men-
djelaskan berbagai soal kepada Rakjat; baik jang
mereka utjapkan maupun jang tidak mereka utjapkan;
baik bagi mereka jang mampu mengeluarkan suaranja
maupun jang hanja berbitjara didalam hatinja.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Besok, 17 Agustus 1969, kita merajakan ulang

tahun Kemerdekaan jang ke-24. Sebagai ummat beraga-
ma, dalam menjongsong hari jang sangat penting itu,
pertama-tama kita mengutjapkan kebesaran Tuhan Jang
Maha Esa dan memandjatkan segala pudji sjukur ke-

pada-Nja. Tanpa ridho-Nja, hari ini kita
tidak
mungkin berkumpul ditempat ini, besok kita tidak

akan dapat merajakan ulang tahun Proklamasi.
Kita jakin, bahwa Kemerdekaan jang kita nikmati
dan Negara Republik Indonesia ini, adalah atas se-

gala Rachmat-Nja. Rachmat itu telah diberikan-Nja,
karena kita telah memohon dan karena kita telah
berdjoang.
Hanja memohon tanpa berdjoang keinginan kita

tidak akan dikabulkan-Nja; hanja berdjoang tanpa
mengindahkan petundjuk-Nja, kita pasti akan ter-

sesat.
Kita terus berdjoang; dan kita tidak ingin ter-
sesat.
Pada setiap peringatan hari jang paling penting
ini, marilah kita selalu menilai kembali posisi

dalam perdjalanan sedjarah Kemerdekaan kita; Apakah
dalam usaha menudju tjita-tjita Bangsa itu kita
mundur, mandeg atau madju?
Saudara-saudara sekalian;
Tjita-tjita Bangsa Indonesia sudah djelas, se-
perti apa jang terumuskan dalam Pembukaan Undang-
undang Dasar 1945.
Dalam djangka pandjang, tjita-tjita itu adalah
terwudjudnja kesedjahteraan umum, kehidupan Bangsa
jang tjerdas, kemakmuran dan keadilan jang merata

bagi seluruh Rakjat Indonesia.
Landasan-landasannja pun telah kita tetapkan
bersama, ialah Pantja Sila sebagai landasan ideolo-

– 2 –
gis, landasan moralitas dan landasan kepribadian
Bangsa, sedangkan sebagai landasan hukum Dasar, se-
bagai patokan dan norma-norma tata kehidupan negara
dan masjarakat, kita telah memiliki Undang-undang
Dasar 1945. Landasan-landasan ini sangat penting
bagi setiap bangsa, oleh karena landasan-landasan

itu merupakan kebulatan pandangan hidup; dan seka-
ligus
tjita-tjita
jang
hendak
diwudjutkan
serta
tata-krama – "rules of the games" – daripada usaha-
usaha mentjapainja. Tanpa landasan-landasan dan
pandangan hidup ini, sesuatu bangsa akan terombang-
ambing; karena tidak memiliki dasar berpidjak jang
kuat dan tidak tahu arah tudjuannja sendiri.
Landasan-landasan tersebut diatas telah kita
terima dan sepakati bersama pada tanggal 28 Agustus
1945, satu hari setelah pernjataan proklamasi kita.
Dengan demikian, maka sedjak Proklamasi Kemer-
dekaan dan dengan lahirnja Undang-undang Dasar 1945
pada tanggal 18 Agustus 1945, kita tahu dasar ber-
pidjak kita dan. kita tahu apa tudjuan jang akan
kita tjapai serta bagaimana tjara-tjara mentjapainja.
Lima tahun, 1945 sampai 1950, kita telah mem-
berikan segala-galanja dalam Perang Kemerdekaan.

Dalam fase ini, kebulatan persatuan kita benar-
benar terwudjud. Kita semua berada di-pos masing-
masing – digaris depan pertempuran maupun digaris
belakang -, melaksanakan tugas kita masing-masing,
dengan
penuh
keichlasan
dan
kemurnian
tudjuan:
jaitu menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia
jang berdasarkan Pantja Sila dan Undang-undang
Dasar 1945 itu.
Perdjoangan itu membawa hasil, kedaulatan kita
diakui oleh dunia.
Dalam periode berikutnja, landasan perdjoangan
kita jang murni dan luhur, jang telah mengilhami
perdjoangan sehingga memperoleh kemenangan ternjata
berobah.
– 3 –
Kita mengalami periode berdirinja Negara Fede-

ral R.I.S., jang sjukur alhamdulillah dalam waktu
singkat telah dikoreksi oleh Rakjat sendiri, kem-

bali kepada Negara Kesatuan. Tetapi Undang-undang
Dasar 1945 tidak dikembalikan, melainkan diganti
dengan Undang-undang Dasar Sementara 1950, jang

pada hakekatnja mengandung demokrasi jang dilandasi
oleh faham liberalisme, bukan demokrasi Pantja Sila
jang berintikan demokrasi musjawarah untuk mufakat.

Dalam suasana demokrasi liberal itu, timbul ge-
djala-gedjala dan pikiran-pikiran
untuk
merobah
dasar Negara Pantja Sila, diganti dengan dasar jang
lain; sifat Negara Kesatuan didesak oleh sifat ke-
daerahan jang sempit, semangat persatuan dikalahkan
oleh nafsu golongan. Akibatnja djelas sangat buruk:
Pemerintahan djatuh-bangun,
jang
mengakibatkan
tidak adanja stabilitas politik dan stabilitas eko-
nomi, sehingga pembangunan terbengkalai. Keadaan

lebih mendjadi buruk lagi, karena perbedaan pen-
dapat tak terkendalikan dan meruntjing, sehingga
menimbulkan pemberontakan-pemberontakan,
jang
sangat mahal dan memakan banjak korban pula untuk
memulihkannja.
Pada tahun 1959, kita kembali kepada Undang-un-
dang Dasar 1945. Sajang, dalam periode ini kemudian
timbul penjimpangan-penjimpangan dalam pelaksanaan
Pantja Sila dan Undang-undang Dasar 1945. Sementara
kita tidak bersatu-padu dalam periode 1950-1959,
sementara kita tidak sungguh-sungguh setia kepada
dasar dan tudjuan Kemerdekaan, PKI jang anti Pantja
Sila itu sempat menjusun kekuatan jang besar. Kita
selalu mengutjap sjukur alhamdulillah, bahwa pun-

tjak penjelewengan Orde-Lama dengan pemberontakan

G-30-S/PKI pada achir tahun 1965 itu, dapat kita
achiri.
Sedjak tahun 1966 kita membuat lembaran se-

djarah baru, ialah dengan lahirnja Orde-Baru.
Djaman baru ini intinja adalah: pemurnian kembali
tjita-tjita Kemerdekaan, pelurusan kembali djalan-
nja sedjarah kita, pelaksanaan kembali Pantja Sila

dan Undang-undang Dasar 1945.
Saja
perlu
menegaskan,
bahwa
Orde-Baru
itu
bukan
hanja
berarti
menghantjurkan
pemberontakan
PKI, bukan hanja meruntuhkan Orde-Lama; melainkan
merupakan koreksi total dari segala penjimpangan
jang pernah terdjadi selama ini. Koreksi total ini
bukan hanja dibidang ideologi, politik, ketatane-
garaan; melainkan djuga harus disertai dengan ko-
reksi-koreksi sikap mental dan tjara-tjara bekerdja
kita.
Segala matjam pemberontakan tidak boleh ber-
ulang lagi, segala matjam penjelewengan terhadap
landasan
perdjoangan
1945
tidak
boleh
terdjadi
lagi. Dengan Orde-Baru ini kita harus dapat menor-
malisir keadaan, agar kita dapat segera membangun
Bangsa ini, menikmati hasil Kemerdekaan dengan ke-
sejahteraan bersama.
Normalisasi keadaan itupun harus tetap berdiri
diatas landasan perdjoangan dan berdjalan kearah
tudjuan perdjoangan.
Sedjarah kita selama ini menundjukkan, bahwa me-
reka jang akan keluar dari landasan perdjoangan,
mereka jang akan menjimpang dari tudjuan perdjoang-
an, pasti mengalami kehantjuran.
Sekarang, pada peringatan ulang tahun Prokla-

masi Kemerdekaan jang ke-24 ini, marilah kita per-
kuat kebulatan tekad kita untuk terus berpidjak

pada landasan perdjoangan dan bersatu-padu menerus-
kan perdjalanan kita bersama menudju tudjuan jang
sudah djelas itu.
Saja mengetahui, bahwa sebagian kita merasa
bahwa- proses normalisasi dalam suasana Orde-Baru
ini berdjalan "lambat". Tiga tahun jang lalu saja
telah mengatakan, bahwa terwudjudnja Orde Baru itu
melalui proses sosial jang menjangkut segala segi
kehidupan Bangsa kita; jang memang melalui suatu
periode transisi, tidak dapat dipaksakan, apalagi
dipaksakan dari atas, karena paksaan-paksaan sema-

tjam itu bertentangan dengan prinsip-prinsip demo-
krasi jang djustru akan kita tegakkan kembali. Itu-
lah sebabnja, saja djuga pernah menegaskan, bahwa
terwudjudnja Orde-Baru ini adalah tanggung-djawab
kita bersama; bahwa demokrasi bukan sadja hak, me-
lainkan sekaligus adalah kewadjiban dan tanggung
djawab.
Saudara-saudara sekalian;
Apakah kewadjiban dan tanggung djawab pokok

kita?
Kewadjiban dan tanggung-djawab pokok itu, pada
tingkat pertama, adalah memelihara persatuan dan
kesatuan Bangsa serta memperkuat Negara Kesatuan
Republik ini sebagai wadah tunggal kita semuanja.
Selama perdjoangan menegakkan Orde-Baru kita memi-

liki solidaritas jang luar biasa, kita memiliki
konsensus Nasional jang bulat,
ialah
menegakkan
Pantja Sila dan Undang-undang Dasar 1945. Kebulatan
inilah jang harus terus kita pelihara.
Memang, kita berbeda-beda dan boleh berbeda-

beda. Lambang Negara kita sendiri telah menundjukkan
hal
itu,
Bhinneka
Tunggal
Ika.
Akan
tetapi,
dengan perbedaan-perbedaan itu kita harus tetap

dapat mewudjudkan persatuan Nasional.
Kita terdiri dari bermatjam-matjam suku, kita
memiliki bahasa dan kesenian Daerah jang beraneka
ragam, warna kulit kita-pun berbeda-beda, diantara
kita menganut agama atau kepertjajaan jang ber-

lain-lainan, kita memiliki partai-partai
politik
dan organisasi-organisasi massa sebagai salah satu
alat demokrasi; dan perbedaan-perbedaan lainnja.
6
Perbedaan pendapat boleh terdjadi dalam demo-
krasi kita jang berdasarkan Pantja Sila ini. Jang
tidak boleh adalah peruntjingan perbedaan-perbedaan
tersebut
jang
dapat
mengakibatkan
perpetjahan,
lebih-lebih apabila usaha-usaha penjelesaiannja di-

lakukan dengan menggunakan kekerasan. Marilah kita
gunakan musjawarah untuk memetjahkan persoalan kita
bersama. Setiap peruntjingan perbedaan, setiap
penggunaan kekerasan, pasti akan menghantjurkan

kita semuanja.
Dengan
Pantja
Sila
dan
Undang-undang
Dasar
1945, apabila kita laksanakan sungguh-sungguh
dengan kemauan baik dan penuh kedjudjuran, kepen-
tingan semua golongan telah ditampung. Kepentingan
Daerah didjamin dengan otonomi jang riil dan luas.
Aspirasi-aspirasi politik didjamin dengan kemerde-
kaan berserikat dan berkumpul, kebebasan pers, ke-
bebasan mimbar, dan sebagainja. Pengusaha-pengusaha
Nasional diberi kedudukan jang wajar dalam demo-
krasi
ekonomi;
bahkan
memegang
peranan
penting
dalam pembangunan. Aspirasi-aspirasi pemuda, pela-
djar, mahasiswa dan tjendekiawan djelas dapat di-
kembangkan; karena salah satu tudjuan kita adalah
ketjerdasan kehidupan Bangsa.
Demikian djuga, kehidupan keagamaan. Dalam
Undang-udang Dasar 1945, hal ini ditegaskan setjara
chusus: "Negara berdasar atas Ketuhanan Jang Maha
Esa" dan "Negara mendjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanja dan untuk beribadat
menurut agamanja dan kepertjajaannja itu".
Dewasa ini, gedjala-gedjala pertentangan antara
pemeluk-pemeluk agama ini memang agak peka. Dibe-
berapa tempat, hal itu djelas dikobarkan dan diek-
ploitir oleh sisa-sisa kekuatan gelap PKI. Oleh ka-
rena itu, kepada semua pemeluk agama, kepada semua
pemimpin-pemimpin
ummat
beragama,
saja
serukan,
agar tetap waspada. Marilah kita buktikan, bahwa
kita semuanja adalah pemeluk-pemeluk agama jang
– 7 –
bertanggungdjawab. Marilah kita laksanakan Sila
Ketuhanan Jang Maha Esa itu setepat-tepatnja; untuk
mempertebal iman kita, untuk meninggikan achlak

kita, untuk persatuan dan kesedjahteraan kita se-
muanja.
Pengembangan agama, pelaksanaan ibadat, adalah
untuk kebaktian kita kepada Tuhan Jang Maha Esa dan
untuk amal perbuatan jang baik kepada sesama ummat;
bukan untuk demonstrasi kekuatan, bukan untuk de-
monstrasi kekajaan. Semua ummat se-agama harus ber-
satu, seluruh Bangsa Indonesia jang berlain-lainan
agama djuga harus tetap bersatu.
Dalam pengertian inilah, saja menjambut sepe-
nuhnja diadakannja Kongres Ummat Islam Indonesia

jang akan datang. Disini saja tegaskan, bahwa Peme-
rintah tidak pernah sedikitpun menghalang-halangi
usaha-usaha persatuan ummat Islam, bahkan saja an-
djurkan; demikian djuga persatuan antara golongan-
golongan lain jang manapun; djustru karena persa-

tuan inilah jang harus terus kita perkuat, dalam
rangka memperteguh persatuan Nasional, bukan untuk
berhadap-hadapan satu sama lain.
Agar setiap golongan dapat memberikan sumbang-
annja jang positif bagi persatuan dan pembangunan
Bangsa kita, maka golongan-golongan itupun harus
bersatu dan harus mempunjai program kerdja jang
djelas dalam rangka program Nasional. Saja telah
berkonsultasi dengan Panitia Penjelenggara dan pe-
mimpin-pemimpin Partai Islam, djustru untuk men-

djaga agar tudjuan KUII jang luhur itu tidak meng-
hasilkan jang bertentangan dengan tudjuannja. Tu-

djuan pokok KUII ini adalah, persatuan ummat Islam
dan kemadjuan Islam untuk lebih memperoleh persa-

tuan seluruh Bangsa Indonesia, dalam perdjoangan
kita bersama mewudjudkan tjita-tjita Negara Repu-

blik Indonesia jang berdasarkan Pantja Sila. Apa-

bila masih ada tanda-tanda bahwa tudjuan itu, ka-

rena sesuatu hal belum dapat tertjapai, hendaknja
– 8 –
persiapan-persiapannja
disempurnakan
dan
dimatang-
kan.
Saudara Ketua dan Dewan jang terhormat;
Negara Kesatuan kita saat ini benar-benar makin
kuat dengan selesainja PEPERA di Irian Barat.
Didepan Sidang ini, tepat satu tahun jang lalu
saja telah menegaskan, bahwa pelaksanaan PEPERA itu
"merupakan penjelesaian terachir daripada Persetu-
djuan New York", jang sekaligus berarti "kita menun-
djukkan iktikad baik untuk melaksanakan persetudjuan
internasional jang kita sendiri menjetudjuinja".
Sebagai
warga
dari
keluarga
besar
bangsa-bangsa
dunia, sebagai anggota daripada PBB, kita djuga
wadjib mematuhi tata-tertib pergaulan dunia.
Disamping itu, ada satu hal jang paling pen-

ting, ialah kejakinan Pemerintah bahwa Rakjat Irian
Barat
sendiri
memang
merasakan
dirinja
sebagian
dari anggota keluarga besar Bangsa Indonesia.
Sekarang, semuanja telah terbukti. Dengan suara
bulat Rakjat Kabupaten-kabupaten Merauke, Djajawi-
djaja, Paniai, Fak-Fak, Sorong, Manokwari, Teluk
Tjenderawasih dan Djajapura, telah menjatakan pen-
dapatnja.
Untuk
kesekian
kalinja,
segala
pudji
sjukur
kita pandjatkan kehadirat Tuhan Jang Maha Esa.
Keputusan
Rakjat
Irian
Barat
adalah
mutlak,
tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun dan dengan
dalih apapun.
Seluruh Rakjat Indonesia
wadjib
mengutjap
sjukur dan merasa bangga, bahwa keutuhan wilajahnja
telah bulat tertjapai. PBB telah membuktikan pres-
tasi dan keampuhannja, karena dengan djasa-djasa
baiknja, sengketa Irian Barat dapat diselesaikan
dengan tjara damai. Dan jang
paling
penting,
prinsip integritas dan kedaulatan penuh bangsa jang
merdeka telah dihargai.
Idjinkan saja, Saudara Ketua, untuk menjumpai-

kan pesan-pesan chusus kepada masjarakat Irian
Barat.
Saudara-saudara di Daerah Irian Barat;
Dari mimbar ini, saja pribadi dan atas nama se-
luruh Rakjat Indonesia di Daerah-daerah lain, me-
njampaikan utjapan selamat jang hangat kepada Sau-
dara-saudara semuanja.
Saat ini, dengan selesainja PEPERA kita semua
telah menundjukkan kepada dunia bahwa
seluruh
Rakjat Indonesia jang berdiam diwilajah-wilajah
dari Sabang sampai Merauke, merupakan satu keluarga
Bangsa jang tak dapat dipisahkan lagi, Bangsa In-
donesia. Tetapi PEPERA bukan achir tudjuan kita.
Masalah jang paling penting
adalah
Pembangunan
Daerah Irian Barat setjara serentak dan dalam

rangka pelaksanaan REPELITA. Pemerintah tidak akan
mendjandjikan hal-hal jang muluk-muluk.
Walaupun demikian, Pemerintah memberikan per-
hatian jang chusus kepada Daerah Irian Barat.
Marilah kita perbaiki jang masih kurang, dan

kita sempurnakan jang telah baik; kita kerahkan ke-
mampuan kita jang masih mungkin.
Saja telah memperhatikan keinginan-keinginan
jang telah Saudara-saudara sampaikan dengan tulus

dan setjara kesatria didalam PEPERA ini. Marilah
keinginan-keinginan itu kita pelajari bersama-sama.
Hal-hal jang paling mendesak dan mampu kita
laksanakan, marilah kita kerdjakan bersama.
Seperti halnja dengan Daerah-daerah lainnja,
Irian Baratpun segera akan menerima kedudukannja
sebagai Daerah tingkat I dengan otonomi jang riil

dan luas.
– 10 –
PEPERA ini telah berdjalan dengan demokratis
menurut
tjara-tjara
jang
Saudara
pilih
sendiri,
ialah musjawarah. Saja menghargai, Saudara djuga
mematuhi keputusan musjawarah; dan hal itu adalah
kewadjiban demokrasi.
Kepada semua pedjabat –
mulai dari Gubernur
Irian Barat sampai pegawai jang terendah -, kepada
semua anggota
ABRI –
mulai dari
para
Panglima
Daerah sampai kepada Pradjurit -, dan kepada semua
petugas, saja menjampaikan penghargaan jang tinggi.
Semua mereka jang berada di Irian Barat telah

membuat
sedjarah
jang
penting
dalam
kehidupan
Bangsa kita.
Demikian djuga kepada Tuan Ortiz Sanz serta
semua petugas PBB disini, Pemerintah dan Rakjat
Indonesia dengan ini menjampaikan terima kasih atas
pengertian dan kerdjasama jang baik. Mudah-mudahan
tjara-tjara bekerdja
PBB
jang
dapat
memahami
aspirasi-aspirasi nasional bangsa jang merdeka akan
memperkuat organisasi dunia itu.

Saudara Ketua;
Sungguh pada tempatnja, saat ini, kita menge-
nangkan kembali djasa-djasa mereka jang telah gugur,
baik mereka putera Daerah Irian Barat sendiri, baik
mereka anggota ABRI, baik mereka pegawai negeri,
baik mereka Sukarelawan. Semoga Tuhan Jang Maha Esa
memberi-Nja tempat jang lajak disisi-Nja.
Dengan
ini,
Saudara
Ketua,
kepada
Dewan
Perwakilan Rakjat Gotong-Rojong saja laporkan bahwa
PEPERA telah kita laksanakan dan sukses!
Dan pada kesempatan ini saja menjerahkan Ran-
tjangan Undang-undang tentang Pembentukan Propinsi
Otonomi Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten Otonomi
di Propinsi Irian Barat.
Karena pentingnja pemberian otonomi jang riil
– 11 –
dan luas kepada Daerah itu, kita semua mengharap-

kan, agar Rantjangan Undang-undang ini dapat kita
selesaikan setjepat-tjepatnja.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Dengan selesainja masalah Irian Barat, maka
Republik kita makin bertambah kuat.
Setelah kita berdjoang 24 tahun, maka salah
satu segi tudjuan kemerdekaan kita tertjapai,

ialah: keutuhan wilajah kekuasaan Negara Kesatuan
Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke riil

dan formil, bulat setjara Nasional dan sesuai

dengan sopan-santun internasional.
Marilah kita perkuat terus, wadah Negara Kesa-

tuan ini, – dimana keinginan kita semuanja kita
salurkan, dimana kepentingan kita semuanja kita
wudjudkan.
Kita telah sepakat, bahwa semua keinginan dan
kepentingan itu
akan
kita
perdjoangkan
dengan
djalan demokratis, setjara konstitusionil dan ber-
dasarkan hukum; jang semuanja ini, tetap kita lak-
sanakan pada landasan jang telah kita tetapkan ber-
sama: Pantja Sila.
Selama tiga tahun kita telah berusaha keras
melaksanakan kehidupan demokrasi jang sehat ini.
Antara Pemerintah dan DPR-GR, antara Pemerintah dan
masjarakat, diantara golongan-golongan dalam masja-
rakat – sebagian besar melalui pers – telah timbul
berbagai dialoog mengenai soal-soal
jang
kita
hadapi bersama. Dialoog ini kadang-kadang sangat
keras dan sangat tadjam. Semuanja ini memang boleh
terdjadi, bahkan harus terdjadi, dalam suasana de-
mokrasi.
Dialoog-dialoog ini merupakan kontrol antara

kita; bukan sadja kontrol masjarakat terhadap Peme-
rintah, melainkan djuga kontrol antara sesama ke-
kuatan dalam masjarakat sendiri.
– 12 –
Dengan sendirinja dialoog-dialoog ini harus
mempunjai sopan-santun, ada dasar "aturan permainan-
nja" dan ada tudjuannja; ialah kedjudjuran, lapang
dada, berdasarkan kebenaran dan mentjari kebenaran,
mendengarkan dan menghormati pendapat fihak lain,
segala
sesuatunja
didasarkan
pada
Undang-undang
Dasar 1945 dan didjiwai oleh Pantja Sila. Dan jang
paling penting adalah tetap terpeliharanja persa-
tuan, tetap terpeliharanja keselamatan bersama dan
tertjapainja tudjuan bersama.
Dalam demokrasi berdasarkan Pantja Sila, kita
tidak mengenal sikap-sikap a priori.
Jang terpenting adalah menilai apa jang baik
dan apa jang buruk, menemukan apa jang benar dan
apa jang salah; bukan penilaian jang didasarkan atas
siapa konseptornja atau siapa jang melaksanakannja,
meskipun ini djuga penting.
Diantara kekuatan Orde-Baru, diantara kekuatan
Pantja Silais sedjati, hendaknja tidak digunakan apa
jang dikenal dalam kamus politik "hubungan antara
kawan dan lawan", "jang kawan mesti baik, jang lawan
mesti tidak baik".
Kita harus menerima apa jang baik, siapapun
jang mengusulkannja; dan kita harus melaksanakan
apa jang benar siapapun jang mengatakannja. Itulah
sebabnja, dalam melaksanakan demokrasi jang berda-
sarkan Pantja Sila ini, kita mengutamakan djalan
musjawarah untuk mentjapai mufakat.
Bagi kita, demokrasi bukan sekedar "kebebasan
mengeluarkan suara" dan demokrasi bukan hanja "ke-
bebasan berbuat". Demokrasi jang sehat, memerlukan
sikap mental jang dewasa dan rasa tanggung-djawab
jang besar.
Saja minta perhatian kita semuanja, bahwa "ke-
bebasan"
hanja
untuk
"kebebasan"
telah
membawa
ekses; bukan hanja disini, melainkan djuga dinega-
– 13 –
ra-negara lain jang biasanja disebut menganut demo-
krasi liberal.
Saudara-saudara sekalian;
Pada kesempatan ini saja ingin menondjolkan
masalah kebebasan pers, ialah salah satu manifesta-
si dari kebebasan mengeluarkan pendapat jang meru-
pakan salah satu hak jang sangat azasi.
Pemerintah selalu berusaha mendorong agar kebe-
basan pers berkembang dengan positif; baik karena

hal itu merupakan hak masjarakat, dan terutama

karena bagi Pemerintah merupakan sumber informasi,
pendapat dan idee jang sangat besar nilainja.
Pentingnja fungsi pers dalam abad moderen sekarang
ini telah diakui setjara universil; pengaruhnja
kepada masjarakat tidak dapat diremehkan, baik
pengaruh jang baik maupun pengaruh jang buruk.
Dengan penuh perhatian, saja selalu mengikuti
berita-berita, pendapat-pendapat dan idee-idee jang
dikemukakan dalam pers kita; dan banjak manfaat

jang dapat saja tarik daripadanja. Akan tetapi,
banjak djuga hal-hal jang saja nilai sebagai peng-
gunaan jang salah dari kekebasan pers dan keku-

rang-sadaran atas fungsi pers; terutama dalam hu-
bungannja dengan kepentingan Nasional kita dewasa
ini. Masih terlihat tjara-tjara pemberitaan jang
hanja mengedjar sensasi, tidak berdasarkan fakta

dan hanja semata-mata bertudjuan menjerang fihak

lain setjara a priori. Bahkan ada gedjala-gedjala
pemberitaan dan pemuatan gambar-gambar untuk mak-
sud-maksud murah, jang hanja menurunkan martabat

pers kita.
Saja sambut dengan baik – bahkan dengan utjapan
terima kasih – ketjaman-ketjaman terhadap Pemerin-

tah, asalkan hal itu didasarkan atas fakta-fakta
kebenaran dan dengan iktikad baik untuk memperbaiki
keadaan. Adanja pers jang bebas dan bertanggung-
– 14 –
djawab, adalah djustru untuk maksud ini Akan teta-
pi djelas tidak demikian halnja dengan pers jang isi
dan iktikad pemberitaannja patut diragukan.
Dalam keadaan kita sekarang – dimana semua
energi harus kita tjurahkan untuk mengatasi berba-
gai masalah Nasional jang besar dan mendesak -,

adalah sangat memboroskan dan tidak perlu untuk
mentjiptakan dan meladeni issue-issue jang tidak
pada tempatnja. Melalui forum jang terhormat ini,

saja ingin mengadjak semua karyawan pers, marilah
kita gunakan medium pers jang sangat vital itu

untuk mendjelaskan masalah-masalah Nasional jang
mendjadi tanggung-djawab kita bersama, dan djangan-

lah sebaliknja bahkan mentjiptakan masalah-masalah
jang
dapat
mengakibatkan
kegelisahan
masjarakat
bahkan merugikan kepentingan Nasional.

Sidang jang terhormat;
Tata-tjara demokrasi melalui saluran-saluran
konstitusionil adalah tugas terpenting Dewan ini;
djuga antara Pemerintah dengan badan-badan perwaki-
lan Rakjat jang lain.
Pada kesempatan ini, saja ingin menjampaikan
penghargaan atas kerdjasama jang baik jang selama
ini kita bina. Apabila saja sebutkan kerdjasama
jang baik, bukan berarti bahwa Dewan telah mendjadi
"yes men" atau "menurut sadja" kehendak Pemerintah.
Sebaliknja,
kita
djuga
tidak
dapat
membenarkan
apabila
orang
sekedar
mengatakan
"tidak"
atau
berani mengatakan "tidak" kepada Pemerintah, seke-
dar untuk menundjukkan adanja "demokrasi".
"Yes men" adalah warisan buruk dari masa lam-
pau, akan tetapi sebaliknja "no men" bukanlah sikap
masa depan kita.
Inti demokrasi jang terpenting adalah peranan
aktif dari Rakjat – antara lain melalui wakil-wa-

kilnja dalam Dewan ini – untuk ikut bertanggung-
– 15 –
djawab mengenai soal-soal kenegaraan dan kepenti-

ngan bersama. Demokrasi bukan hanja soal "ja" atau
"tidak sadja.
Saja tidak akan mengulangi hasil-hasil peker-
djaan bersama antara Dewan dengan Pemerintah, jang
tadi telah didjelaskan oleh Saudara Ketua jang ter-
hormat.
Dari sekian banjak masalah jang harus kita
selesaikan, ada berbagai hal jang sangat penting
untuk memperkuat pelaksanaan demokrasi.
Jang saja maksud adalah, berbagai Undang-undang
jang menjangkut soal pemilihan umum dan otonomi
Daerah.
Mengenai pemilihan umum, marilah kita usahakan
bersama, agar segala persiapan dapat kita lakukan
tepat pada waktunja, sehingga pemilihan umum dapat
terlaksana seperti jang telah ditetapkan oleh MPRS.
Dari fihak Pemerintah, selaku pelaksana, waktu jang
diperlukan untuk persiapan-persiapan tehnis adalah
satu setengah tahun sebelum pemilihan umum dilaksa-
nakan.
Kita semuanja jakin, bahwa dengan kemauan kita
jang sungguh-sungguh untuk melaksanakan demokrasi,
untuk mendjamin kelandjutan Pantja Sila dan Undang-
undang Dasar 1945, segala persiapan termasuk pendje-
lasan Undang-undangnja dan pelaksanaan pemilihan
umum nanti akan dapat berdjalan dengan sebaik-
baiknja.
Mengenai otonomi Daerah jang riil dan luas,

maka tudjuan terpenting jang harus dapat kita tja-
pai adalah terpenuhinja aspirasi-aspirasi Daerah
dan pengembangan kemampuan-kemampuan Daerah dengan
tetap memperhatikan sifat Negara Kesatuan kita.
Dewasa ini Pemerintah bersama-sama
dengan
DPR-GR sedang bekerdja keras untuk menjelesaikan
Undang-undang jang berhubungan dengan Pemerintahan
– 16
dan hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah se-
suai dengan Ketetapan MPRS. Tetapi karena masalah-
nja tidak semudah jang diperkirakan dan berhubungan
erat dengan kenjataan serta kelantjaran tugas-tugas
negara lainnja, maka rentjana kerdja jang semula
diperkirakan
akan
dapat
diselesaikan
sebelum
5
Djuli 1969 seperti jang ditetapkan oleh MPRS, ter-

njata belum dapat terkedjar. Mudah-mudahan dalam
sidang-sidang mendatang hal ini dapat diselesaikan.

Sidang jang terhormat;
Hubungan dan tata-kerdja konstitusionil antara
Lembaga-lembaga Negara tertinggi djuga berdjalan
kearah jang lebih sehat. Saja selalu mendapatkan
bahan-bahan pertimbangan jang bermanfaat dari Dewan
Pertimbangan Agung mengenai berbagai masalah jang
penting; dan telah didjadikan bahan pembanding dan
koreksi-koreksi oleh Pemerintah.
Seperti jang telah saja sampaikan kepada Si-
dang, sedjak tahun jang lalu, Pemerintah telah
mulai mempertanggung-djawabkan keuangan Negara ke-
pada Badan Pemeriksa Keuangan. Koreksi-koreksi oleh
Badan tersebut mendapatkan perhatian jang sungguh-
sungguh dari Pemerintah.
Pelaksanaan
hukum
sebagai
djaminan
objektif
untuk normalisasi keadaan, untuk mendjamin keterti-
ban dalam segala bidang, untuk mentjegah kesewe-
nang-wenangan dan untuk mewudjudkan keadilan, dju-
ga telah menundjukkan kemadjuan-kemadjuan jang
prinsipiil. Kesadaran hukum masjarakat, aparatur
Negara dan pedjabat-pedjabat djelas telah mulai
tampak. Kekuasaan Kehakiman, demikian pula badan-
badan
pengadilan,
telah
makin
leluasa
bergerak
sebagai kekuasaan jang bebas.
Memang, tegaknja hukum masih belum sempurna;
akan tetapi perkembangan-perkembangan kearah jang
lebih djelas telah terdjadi, dan Pemerintah selalu
– 17 –
berusaha untuk memun8kinkan tegaknja hukum. Hal ini
adalah sangat penting, bagi sesuatu negara dan
tatanan masjarakat jang demokratis dan bertanggung-
djawab kepada nilai-nilai jang luhur.
Dalam rangka pemurnian dan penertiban hukum

jang berlaku sesuai dengan Ketetapan MPRS, maka
telah berhasil dibentuk Undang-undang jang mengha-
puskan semua produk-produk hukum Orde-Lama jang
tidak sesuai dengan Pantja Sila dan Udang-undang
Dasar 1945, jang berbentuk Penetapan Presiden dan
Peraturan Presiden; sebagian ditjabut dan sebagian
lagi, jang materi hukumnja tidak bertentangan dengan
Pantja Sila dan Undang-undang Dasar 1945 diperlaku-
kan sebagai Undang-undang atau didjadikan bahan

guna pembuatan Undang-undang baru atau peraturan-
peraturan perundang-undangan lainnja.

Sidang jang terhormat;
Orde-Baru selain merupakan orde pemurnian sikap
politik dan ideologis berdasarkan Pantja Sila dan
Undang-undang Dasar 1945, mempunjai sikap dan hake-
kat perdjoangan untuk kemadjuan, untuk mengadakan
perbaikan keadaan. Mentalitas Orde-Baru adalah men-
talitas persatuan dan demokrasi, tetapi sekaligus
djuga mentalitas kemadjuan disegala bidang.
Mentalitas kemadjuan berisi sikap dan tjara
berfikir jang luas dan djauh, tetapi berdasarkan
pada realitas dan pragmatisme, didukung oleh perhi-
tungan-perhitungan jang objektif dan tepat.
Dalam rangka inilah maka sedjalan dengan pena-
taan kembali kehidupan politik dan ketatanegaraan,
kita djuga telah banjak berbuat dalam mengatur kem-
bali kehidupan dibidang ekonomi, baik jang diarah-
kan pada landasan jang demokratis maupun pengetra-
pannja jang didasarkan pada hukum-hukum ekonomi
jang wadjar.
Perobahan sikap mental inilah – meskipun tera-
– 18 –
sa belum menjeluruh -, merupakan salah satu kema-
djuan selama tiga tahun ini. Dahulu setiap kegiatan
didasarkan pada perhitungan-perhitungan dan untuk
mentjapai tudjuan-tudjuan politik serta disertai
dengan slogan "ke-mertju-suar-an", sekarang kita

telah
mulai
memaksa
diri
kita
untuk
mentjari
tjara-tjara bekerdja jang lebih efisien didasarkan
pada perhitungan-perhitungan jang pragmatis dan
realistis, memanfaatkan teknologi dan teknik moderen
jang mungkin, sehingga dapat memperoleh prestasi
dan hasil kerdja jang lebih besar.
Adalah mendjadi tugas kita semua, terutama para
pemimpin dan wakil-wakil Rakjat, untuk mengembang-
kan dan mengadjak Rakjat agar mereka djuga memiliki
dan mengetrapkan mentalitas kemadjuan itu bagi ke-
madjuan mereka, bagi kemadjuan kita semua seluruh
Rakjat Indonesia.
Dalam dua-tiga tahun terachir ini hasil-hasil
dari perubahan sikap mental kita itu telah banjak dan
mulai
terasa
manfaatnja
bagi
kemadjuan
kehidu-
pan Bangsa, chususnja dalam bidang ekonomi.
Pertama-tama dapat dikemukakan adanja demokra-
tisasi daripada kehidupan ekonomi Bangsa. Pengi-
kut-sertaan setjara luas masjarakat dalam gerak
pembangunan ekonomi Nasional; pemberian keleluasan
bagi pernanaman modal asing guna turut serta mengo-
lah kekajaan alam Indonesia dengan persjaratan-per-
sjaratan jang tjukup mendjamin pengamanan dan pe-
ngembangan ekonomi Bangsa sendiri; kesempatan jang
lebih besar bagi Daerah untuk membangun Daerahnja
dengan inisiatif sendiri; merupakan langkah-langkah
jang dapat menggairahkan dan meningkatkan kehidupan
ekonomi masjarakat, jang dewasa ini sedikit demi
sedikit telah kita rasakan hasil-hasilnja.
Saja perlu menegaskan, bahwa hal ini bukan ber-
arti proses liberalisasi ekonomi, melainkan usaha-
usaha perbaikan dan memadjukan ekonomi setjara
– 19 –
rasionil dan demokratis jang merupakan pelaksanaan
daripada haluan ekonomi jang digariskan oleh MPRS.
Dengan demokratisasi ekonomi ini setiap usaha
jang sungguh-sungguh akan didorong untuk bekerdja
dengan efisiensi jang tinggi dan berlomba untuk
mengedjar kemadjuan setjara terus-menerus, sehingga
dapat menghasilkan jang lebih baik dan lebih ekono-
mis dalam memenuhi kebutuhan Rakjat banjak.
Demokratisasi dan rasionalisasi usaha ekonomi
inipun tidak terketjuali bagi aparatur ekonomi se-
perti Perusahaan-perusahaan Negara dan Koperasi-ko-
perasi. Hukum-hukum ekonomi jang rasionil dan

hukum-hukum pengusahaan jang baik harus kita

indahkan, apabila kita benar-benar akan membangun
ekonomi. Memang, landasan konsepsionil – jaitu
demokrasi ekonomi – tetap tidak boleh berobah, akan
tetapi pelaksanaannja harus memperhatikan hukum-hu-

kum tadi.
Dalam rangka inilah maka Pemerintah telah me-
ngeluarkan Perpu No. 1 tahun 1969 jang telah disah-
kan kemudian oleh Dewan jang terhormat ini mendjadi
Undang-undang.
Dalam bidang pembinaan keuangan Negara, pelak-
sanaan Anggaran Berimbang, jang telah berdjalan dua
tahun, ternjata membantu berhasilnja usaha mereda-
kan inflasi. Lebih-dari hanja usaha memperbaiki
ekonomi, kebidjaksanaan Anggaran Berimbang mempu-

njai arti jang sangat penting bagi perombakan men-
tal. Anggaran Berimbang menimbulkan disiplin angga-
ran, jang selama bertahun-tahun telah kita abaikan;
mengharuskan kita bekerdja dengan rentjana jang

baik, mulai tingkat teratas Pemerintah sampai apa-
ratur-aparatur pelaksana ditingkat bawah. Disatu

fihak mengharuskan kita menggali sumber pendapatan
Negara dengan efektif, dilain fihak mengharuskan
kita mempertanggung-djawabkan setiap pengeluaran
Negara.
– 20 –
Demikian pula keputusan Pemerintah untuk menju-
sun rentjana dan mulai melaksanakan pembangunan lima
tahun dalam tahun ini djuga dalam rangka melaksana-
kan Ketetapan MPRS, jang diterima baik oleh DPR-GR
serta disambut dengan menggelora oleh Rakjat dimana-
mana, sungguh merupakan hasil langsung dari pada
sikap mental dan tekad Rakjat untuk mengedjar kema-
djuan jang riil.
Perobahan tahun Anggaran seperti jang berlaku
sekarang – mulai 1 April sampai dengan 31 Maret
tahun berikutnja -, djuga mentjerminkan perobahan
sikap mental madju dalam usaha memetjahkan masa-
lah-masalah ekonomi.
Perobahan tahun Anggaran ini – seperti diketa-
hui – berdasarkan pertimbangan rasionil an efisien-
si, sungguh kita perlukan untuk menundjang berhasil-
nja atau kelantjaran pelaksanaan Pembangunan Lima
Tahun jang kita mulai tahun ini, bersamaan dengan
mulai berlakunja tahun Anggaran baru tersebut.
Masih banjak tjontoh-tjontoh
peristiwa
atau
fakta jang menundjukkan kemadjuan mental dan tjara
berfikir kita, jang tentunja tidak mungkin untuk
dikemukakan disini. Jang lebih penting adalah untuk
memupuk,
mengembangkan
dan
menjalurkan
perobahan
dan kemadjuan sikap mental tersebut kearah kemadju-
an rill jang bermanfaat bagi peningkatan kesedjah-
teraan seluruh Bangsa, serta mendjaga agar perobah-
an-perobahan tersebut tidak menimbulkan ekses-ekses
jang dapat merugikan perkembangan kehidupan masja-
rakat atau bahkan membahajakan kepribadian Bangsa.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Dalam
mengadakan
penilaian
keadaan
Nasional
pada kesempatan seperti sekarang ini, masalah eko-
nomi djelas memperoleh sorotan perhatsian jang pen-
ting. Dalam hal ini, saja ingin menegaskan bahwa
keadaan ekonomi kita dewasa ini lebih baik dari 3-
4 tahun jang lalu, berkat usaha-usaha kita bersama
– 21 –
berkat ketekunan dan kerdja keras, dan djuga seba-
gai hasil dari adanja perobahan mental serta tekad
jang besar untuk memperoleh kemadjuan.
Saja katakan bahwa keadaan ekonomi kita "lebih
baik", saja tidak mengatakan "sudah baik". Penger-
tian ini harus kita fahami benar-benar.
Kemadjuan, – progres – inilah jang penting.

Kita tidak mungkin membangun dalam tempo satu-dua
bulan atau satu-dua tahun. Saja pernah mengingat-
kan, bahwa bangsa-bangsa lain jang sekarang telah
madju ekonominja, telah melaksanakan pembangunan
puluhan tahun lamanja, bahkan ada jang ratusan

tahun.
Apa jang kita lakukan selama dua-tiga tahun
jang terachir ini adalah mewudjudkan stabilisasi
dan rehabilitasi ekonomi; atau dalam bahasa jang
sederhana: menjembuhkan luka parah ekonomi jang te-
lah merusak tubuh Bangsa kita bertahun-tahun lama-
nja. Ibarat orang jang luka parah, maka luka-luka

itu sekarang mulai sembuh; dan kita telah mulai da-
pat berdjalan dan bekerdja.
Marilah kita lihat kehidupan kita sehari-hari.
Dahulu kita harus antri minjak tanah, antri
beras, antri bensin, antri gula, dan sebagainja.
Sekarang tidak lagi! Dahulu dikota-kota besar – ter-
utama di Ibu Kota ini – Rakjat harus berebutan dan
berdiri dipanas terik menunggu kendaraan umum. Se-
karang – walaupun belum tjukup -, sudah djauh lebih
lantjar! Dulu sebagian besar djalan-djalan hantjur;
sekarang ribuan kilometer djalan telah halus dan
lebih kuat. Dulu, giliran pemadaman listrik sangat
sering kita alami, sekarang – disebagian besar

daerah jang mempunjai pusat tenaga listrik – sudah
djarang terdjadi.
Dan, jang sangat penting harga-harga kebutuhan
pokok tidak melondjak-londjak lagi dalam djangka
waktu lebih-kurang satu tahun ini, sehingga dapat
– 22 –
memberikan
ketenangan
dan
harapan-harapaan
jang
baik untuk perkembangan selandjutnja.
Kegiatan dan hasil pembangunan di Daerah-daerah
djuga telah mulai tampak. Meskipun disana-sini ada
terdapat kelambatan-kelambatan pelaksanaan projek-
projek Pembangunan Lima Tahun jang ada di Daerah,
jang disebabkan oleh kesulitan tehnis dalam penggu-
naan anggaran jang telah tersedia, tetapi swadaja
dan kegotong-rojongan masjarakat di Daerah-daerah
djelas telah menundjukkan kesanggupannja untuk me-
laksanakan pembangunan Daerahnja sesuai dengan ke-
mampuannja.
Bukan sadja di Ibu Kota tetapi djuga di Sumate-
ra, Djawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara,
Maluku dan djuga di Irian Barat, telah banjak dila-
kukan pembangunan gedung-gedung sekolah, rumah-ru-
mah ibadah, perbaikan djalan-djalan dan irigasi
dengan swadaja dan kemampuan Daerah sendiri.
Di Djawa, sumbangan Pemerintah kepada setiap
desa sebesar Rp. 100.000,- ternjata telah dimanfaat-
kan pula setjara baik oleh desa-desa jang bersang-
kutan.
Saudara-saudara sekalian;
Apabila kita mengikuti dan memperhatikan data-
data ekonomi jang dapat dikumpulkan, maka kita
dapat pula melihat adanja kemadjuan-kemadjuan djika
dibandingkan dengan keadaan-keadaan sebelumnja.
Indeks harga 9 bahan pokok umpamanja, antara
achir Desember 1968 sampai dengan Djuli 1969 telah
mengalami penurunan sebesar lebih-kurang 13,8%,
sedangkan angka ladju inflasi jang diukur berdasar-
kan indeks harga 62 matjam barang, pada achir bulan
Djuli tahun ini dibandingkan dengan keadaan pada
achir tahun jang lalu hanja mengalami kenaikan
1,7%. Sepandjang tahun 1968 ladju inflasi masih

lebih kurang 85% atau 7,1% rata-rata setiap bulan.
– 2 3 –
Demikian pula, data-data perdagangan luar nege-

ri kita jang menentukan posisi devisa jang vital

itu memperlihatkan hal-hal jang membesarkan hati.
Ekspor kita (tanpa overprice dan minjak bumi)
antara Djanuari –
Djuli tahun ini mencapai US $

301,8 djuta; sedangkan dalam periode jang sama pada
tahun jang lalu djumlah tersebut US $ 255,4 djuta.
Dalam bulan Djuli jang lalu ekspor tanpa over-
price dan minjak bumi mentjapai US $ 48,3 djuta,
angka jang tertinggi semendjak 19 bulan jang ter-

achir ini.
Djumlah impor – tanpa barang kiriman, PL-480,
bantuan projek dan ADO – dalam bulan Djuli jang

lalu mentjapai US $ 52,5 djuta; djuga merupakan
angka tertinggi dibanding dengan waktu-waktu sebe-
lumnja, sedangkan komposisinja menunjukkan bahwa

50% terdiri dari bahan baku dan 28% barang modal;
sedangkan pembajaran dan tjara-tjara
penggunaan
alat-alat pembajarannja tidak terlalu banjak meng-
gunakan kredit semata-mata. Dalam garis besarnja,
telah dapat dikatakan, bahwa ekspor kita telah

dapat memenuhi kebutuhan impor swasta dalam tingkat
sekarang ini.
Dari indikator-indikator ekonomi tadi, dapatlah
dilihat tjukup terdapat tingkat kegiatan-kegiatan
ekonomi kita dan jang terus bergerak kearah jang
positif. Ekspor tentu tidak akan dapat naik, apabi-
la tidak ada rangkaian kegiatan, mulai dari produk-
si, pengumpulan, pengangkutan dan sebagainja. Demi-
kian djuga, komposisi impor jang menundjukkan angka
terbesar untuk bahan-bahan baku dan barang modal,
berarti ada kegiatan-kegiatan jang mendorong pro-

duksi dan pembangunan didalam negeri.
Sedjak semula Pemerintah sudah berpendirian,

bahwa stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi
chu-
susnja mengendalikan inflasi
bukanlah tudjuan
achir, melainkan, baru merupakan prasjarat mutlak
24 –
dan ladasan bagi pelaksanaan Rentjana Pembangunan

Lima Tahun jang sekarang telah kita mulai.
Kebidjaksanaan serta langkah-langkah jang dapat
mendorong kegiatan ekonomi pada umumnja dan pelak-
sanaan pembangunan chususnja terus diusahakan. Pe-
njediaan sarana-sarana baik jang berupa dana-dana,
fasilitas-fasilitas, prasarana dan bahan-bahan baku
serta penjederhanaan prosedur kerdja guna kelantja-
ran usaha produksi dan pembangunan, mendjadi perha-
tian sepenuhnja dari Pemerintah, oleh karena Peme-
rintah memang menjadari bahwa itulah mendjadi tugas
kewadjiban Pemerintah menurut urutan prioritas dan
kemampuan-kemampuannja jang ada.
Dalam hubungan ini Pemerintah berusaha keras
untuk dapat menjediakan dana-dana jang tjukup dan
seimbang dengan kemampuan serta kemungkinan pening-
katan produksi dan pembangunan, baik jang berasal
dari Anggaran Belandja – Anggaran Pembangunan –
maupun melalui perkreditan. Angka-angka perkreditan
bank menundjukkan kenaikan sebesar 27% selama 6 bu-
lan tahun ini dan telah mentjapai djumlah lebih-ku-
rang 160 miljar rupiah jang terbagi dalam 48% untuk
sektor produksi, 8% untuk sektor ekspor dan 44%
sektor lain-lain. Chusus mengenai kredit investasi
dengan sjarat-sjarat jang tjukup menarik – bunganja
1% sebulan -, dewasa ini telah mulai menarik para
usahawan untuk mengembangkan usahanja atau melaku-
kan investasi-investasi baru.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Keadaan ekonomi kita setjara strategis memang
lebih baik. Akan tetapi, saja tahu benar, bahwa ke-
hidupan suadara-saudara sekalian – petani ketjil,
buruh-buruh, pedagang ketjil, pegawal negeri, pra-
djurit – masih berat. Seperti tadi saja katakan,
keadaan sekarang memang belum seperti jang kita
tjita-tjitakan. Tetapi jang terang, keadaan sekarang
lebih madju dari sebelumnja.
– 2 5 –
Kemadjuan ini memberikan kejakinan kepada kita,
bahwa djalan jang kita tempuh adalah benar.
Kita sudah berusaha keras, dan usaha itu djelas
ada hasilnja. Keadaan sekarang lebih baik dari masa
lampau; dan dengan bekerdja keras, keadaan kita
nantipun pasti lebih baik dari sekarang.

Para Anggota DPR-GR jang terhormat;
Apa jang biasa disebut sebagai daja beli Rakjat
dewasa ini memang masih rendah. Akan tetapi, perlu
kita sadari bahwa keadaan ini bukan kita alami se-
karang sadja, lebih-lebih bukan karena program sta-
bilisasi dan rehabilisasi jang telah kita tempuh.
Keadaan ini, kita warisi selama lebih sepuluh tahun
ini, bahkan setjara strukturil merupakan warisan
ekonomi masa pendjadjahan.

Peningkatan daja beli Rakjat memang tudjuan


kita semuanja, jang tidak dapat kita tjapai dengan
program stabilisasi dan rehabilisasi ekonomi sadja.
Peningkatan daja beli Rakjat adalah masalah pening-
katan pendapatan Rakjat, dan hal ini kita usahakan
bersama melalui peningkatan produksi dan produkti-
vitas Nasional setjara bertahap dan berentjana.

Usaha itu, telah kita susun setjara djelas dalam
Rentjana Pembangunan Lima Tahun, jang apabila sasa-
ran-sasaran jang ditentukan dalam berbagai sektor
dapat kita tjapai, kita perkirakan dapat mentjapai
tingkat pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% setahun.

Kegiatan-kegiatan produksi dewasa ini rata-rata
dapat mentjapai kenaikan disekitar 10%. Kenaikan
umumnja dapat ditjapai dalam berbagai sektor jang
penting, seperti pangan, sandang, perkebunan, per-
tambangan, kehutanan, industri kimia, industri
dasar, industri ringan, keradjinan Rakjat dan
sebagainja.

Memang ada beberapa sektor agak mundur, tetapi
sebagian besar madju. Untuk beberapa djenis bahan
26
ekspor, kita menghadapi masalah-masalah pemasaran
jang harus kita petjahkan setjara serius.
Saudara-saudara sekalian;
Saja perlu menjinggung masalah peningkatan pro-
duksi beras, jang sangat vital itu dan jang banjak
dibitjarakan oleh masjarakat, terutama melalui pers.
Kita semuanja telah sependapat, bahwa produksi
beras ini harus mendapatkan perhatian kita jang
terpokok, seperti jang telah ditetapkan dalam Ren-
tjana Pembangunan Lima Tahun. Politik beras ini me-
ngarah keberbagai sasaran, antara lain tingkat har-
ga jang merangsang dan menguntungkan petani pengha-
sil, tingkat harga jang terbeli oleh sebagian besar
masjarakat, serta kenaikan produksi menudju swa-
sembada pangan. Disamping itu, ada segi lain jang
sangat fundamentil bagi Pembangunan kita dewasa ini
maupun tahap-tahap Pembangunan selandjutnja. Jang

saja maksudkan adalah pengenalan tehnologi Walau-
pun pada tingkat sederhana – jang sekaligus merombak
sikap mental dan tjara bertani jang "tradisionil".
Pembangunan memerlukan tehnologi, pembangunan
memerlukan sikap mental jang lebih terbuka. Perom-
bakan ini tidak dapat sekaligus, melainkan harus
bertahap; dan petani-petani kita harus jakin akan
hasil-hasil pembaharuan ini. Pembaharuan harus

bangkit didesa-desa, karena didesa-desa inilah ter-
letak kekuatan Pembangunan kita.
Sedjalan dengan tudjuan menaikkan produksi, me-
naikkan pendapatan petani dan pembaharuan ini, maka
sedjak beberapa waktu telah dilantjarkan program-
program intensifikasi pertanian, dengan Pantja Usa-
ha, baik melalui Intensifikasi Massal, Bimbingan
Massal (Bimas) Umum maupun Bimas Gotong-Rojong. Me-
mang dibeberapa Daerah program Bimas ini tidak men-
tjapai sasaran jang diinginkan, akan tetapi produk-
si Nasional kita tetap naik.
-27-
Peningkatan produksi dengan tjara Bimas itu,
djelas memerlukan sarana produksi jang lebih besar
daripada tjara penanaman biasa, sedangkan kemampuan
para petani masih sangat terbatas, meskipun mereka
berhasrat melakukan Bimas itu, karena mereka tahu
bahwa hasilnja akan djauh lebih besar lagi. Adalah
mendjadi kewadjiban Pemerintah untuk membantu me-
ngusahakan penjediaan sarana produksi jang diperlu-
kan, bukan semata-mata sebagai pemberian, tetapi
dengan tjara-tjara perkreditan jang menguntungkan
petani, sehingga lambat-laun mereka akan berkemam-
puan untuk melakukan sendiri penanaman padi dengan
tjara-tjara jang bare dengan menjediakan sarananja
sendiri.

Oleh karena itulah, dewasa ini Pemerintah me-
njelenggarakan Bimas Gotong-Rojong dimana pengusaha
swasta memberikan kredit kepada petani dengan dja-
minan Pemerintah, ataupun dengan Bimas Umum, jang
memungkinkan para petani mendapatkan kredit dari
bank untuk memperoleh sarana produksi jang diperlu-
kan, serta kredit untuk biaja hidup selama mereka
menungggu panenannja, dengan bunga jang rendah.

Disamping itu semua, Pemerintah akan terus mem-
berikan bantuan penjuluhan, penerangan dan lain se-
bagainja serta mengusahakan insentif produksi de-
ngan menetapkan harga bahan sarana produksi jang
seimbang dengan harga hasil produksinja. Oleh kare-
na itu harga pupuk serta harga pembelian padi dari
petani akan diatur sebaik-baiknja.

Dapatlah digambarkan bahwa untuk usaha intensi-
fikasi ini jang sasarannja akan terus meningkat
sampai mentjapai areal 4 djuta hektar pada tahun
achir REPELITA, diperlukan tersedianja modal berpu-
luh miljar rupiah.

Oleh karena itu, adalah menjadi tanggung jawab
kita bersama, bahwa sarana produksi jang telah diu-
sahakan dengan susah-pajah itu benar-benar dapat
digunakan dan dimanfaatkan setjara tepat, agar su-

28
paja sasaran produksi jang diharapkan dapat ditja-
pai, sedangkan dilain fihak kredit jang diberikan
kepada petani oleh atau atas djaminan Pemerintah

itu harus dapat dikembalikan semestinja.
Dalam hubungan ini, dari mimbar ini saja ingin
menjerukan kepada para bapak-bapak tani didesa-desa
jang telah mendapatkan kesempatan memperoleh Bimas
– Umum ataupun Gotong-Rojong – benar-benar melaksa-
nakan petundjuk-petundjuk dari para pembimbing dan
petugas jang berkompeten, tidak menggunakan pupuk,
bibit dan lain-lain sarana jang diperolehnja dalam
rangka Bimas ini untuk tudjuan-tudjuan lain daripa-
da jang ditentukan. Demikian pula kewadjiban-kewa-
djiban pengembalian kredit, baik berupa uang atau-
pun padi – dalam rangka bagi-hasil – hendaknja dapat
dipenuhi setjara wadjar, agar supaja tidak mengu-
rangi kemampuan Pemerintah dalam menjediakan sarana
produksi untuk waktu-waktu berikutnja, jang pada
achirnja akan merugikan para petani sendiri.
Kepada semua petugas, saja minta agar benar-be-
nar melaksanakan bimbingan massal ini dengan tepat.
Program ini tidak merupakan paksaan kepada petani
melainkan kewadjiban membimbing dari Pemerintah.
Petani sendiri tentu tidak perlu dipaksa, apabila
mereka jakin bahwa tjara-tjara baru ini lebih me-
nguntungkan. Dan tjara-tjara baru ini memang lebih
menguntungkan serta memberikan hasil jang djauh
lebih besar, asalkan persjaratan-persjaratannja
dipenuhi dengan tjukup dan tepat pada waktunja.
Usahakan agar supaja pupuk, kredit uang, bibit dan
sebagainja dapat sampai kepada petani dalam djumlah
jang diperlukan dan tepat pada waktunja. Areal untuk
di-Bimas-kan harus dipilih sawah-sawah jang pengair-
annja sudah ada; – kalau belum ada harus diadakan
dahulu -, penjediaan dan penjemprotan obat-obat
pembasmi hama-pun harus dilakukan tepat pada waktu-
nja dalam djumlah dan matjam jang tjotjok.
Bagi Daerah-daerah jang belum berhasil mentja-
– 2 9 –
pai target produksi, hendaknja berusaha mentjari
sebab-sebabnja dan mengoreksi kekurangan-kekurangan
nja.
Segala pengalaman ini, harus lebih menjadarkan
kita semuanja bahwa pembangunan memerlukan tjara-
tjara bekerja jang lebih teliti dan teratur, baik

pada tingkat perentjanaan maupun pelaksanaannja.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;

Mengenai anggaran pembangunan memang telah tju-
kup tersedia guna menggarap projek-projek jang te-
lah ditentukan itu. Untuk tahun 1969/1970, anggaran
rupiah jang tersedia sebesar 87 miljar, jang peng-
gunaannja direntjanakan untuk semester I tahun 1969
sebesar 47 miljar, suatu djumlah jang djauh lebih
besar dari seluruh anggaran pembangunan tahun 1968
jang berdjumlah 35 miljar.
Dalam pada itu, sebenarnja kebutuhan pembiajaan
pembangunan kita masih djauh lebih besar lagi untuk
menambah kemampuan dan memperlantjar pelaksanaan
pembangunan serta peningkatan kesedjahteraan Rakjat.
Pembangunan Irian Barat, setelah berhasilnja
PEPERA ini, benar-benar merupakan tantangan dan
mengetuk hati kita; untuk mampu mengangkat tingkat
kehidupan Saudara-saudara kita di Irian Barat jang
masih djauh ketinggalan itu, ketingkat jang setaraf
dengan,Saudara-saudaranja di Daerah-daerah lainnja,
sungguh memerlukan pembiajaan jang tidak sedikit.
Pelaksanaan dari dana PBB chusus untuk Irian Barat,
tidak akan lantjar tanpa adanja pembiajaan rupiah

jang setimpal.
Demikian pula masalah pendidikan jang sangat
penting itu, pembangunan Daerah, perbaikan gadji
pegawai dalam rangka pembangunan aparatur jang kuat
dan mampu melaksanakan administrasi pembangunan,
sungguh-sungguh membutuhkan biaja jang lebih besar.
– 30 –
Dalam rangka inilah Pemerintah dewasa ini se-

dang mentjari sumber-sumber keuangan tambahan, jang
disatu fihak tidak akan mengganggu kestabilan mo-
neter, sedangkan dilain fihak masih dalam rangka
kemampuan masjarakat.
Saja mengharapkan pengertian dan kesadaran dari
masjarakat dan Dewan Perwakilan Rakjat, apabila Pe-
merintah telah mengambil keputusan tentang hal ini.

Saudara-saudara sekalian ;
Segala usaha kita untuk meningkatkan produksi
Nasional itu, harus mentjapai tingkat jang seimbang
dengan
kebutuhan
masjarakat.
Peningkatan
produksi
jang tidak seimbang, setjara langsung pasti tidak

akan mendatangkan kesedjahteraan lahiriah, bahkan
menimbulkan kegelisahan sosial dan setjara tidak
langsung mengganggu kesedjahteraan rochaniah. Dalam
hal ini pelaksanaan keluarga berentjana adalah sa-

ngat penting.
Meskipun program-program dalam REPELITA itu te-
lah memperhitungkan pula tingkat pertambahan pendu-
duk, namun berhasilnja pelaksanaan keluarga beren-
tjana akan mempermudah kelandjutan pelaksanaan pem-
bangunan pada tahap-tahap berikutnja.
Oleh karena itulah, dengan penuh kesadaran, ki-
ta harus melaksanakan keluarga berentjana. Memang,
program ini djuga tidak dipaksakan; akan tetapi
berdasarkan kesadaran. Tjara-tjara pelaksanaannja-
pun dilakukan dalam batas-batas ukuran kesopanan,
kesusilaan dan agama kita masing-masing. Akan teta-
pi demi kesedjahteraan seluruh masjarakat, demi ke-
sedjahteraan keluarga – terutama ibu dan anak –
saja sangat mengandjurkan agar tiap-tiap keluarga
mempertimbangkan semasak-masaknja dalam membentuk
djumlah keluarga jang bahagia lahir dan batinnja.
Djumlah keluarga jang sesuai dengan penghasilan,
akan memungkinkan memelihara kesehatan anak de-
– 31 –
ngan lebih baik, menjekolahkan anak, memberi pakai-
an, menikmati rekreasi dan sebagainja. Bagi para
ibu sendiri, kelahiran anak jang tidak terlalu se-
ring djelas akan lebih menjehatkan tubuhnja dan ti-
dak melelahkan batinnja.
Saja sangat menghargai, adanja kesadaran jang
makin luas mengenai hal ini, dimana masjarakat sen-
diri telah banjak mendirikan perkumpulan-perkumpul-
an keluarga berentjana, jang didukung oleh kaum
ibu, pemuka-pemuka agama, pemuka-pemuka masjarakat,
para dokter, bidan-bidan dan sebagainja.
Saja andjurkan, agar Lembaga Keluarga Berentja-
na Nasional dan Perhimpunan tadi, lebih banjak me-
lakukan penerangan-penerangan kepada masjarakat,
bukan sadja dikota-kota melainkan didesa-desa. Pe-
merintah sepenuhnja membantu dan menjediakan fasi-
litas jang diperlukan dalam usaha-usaha jang sangat
penting ini.
Program keluarga berentjana ini dengan sadar
harus kita mulai sekarang, sebab apabila tidak, ma-
ka peningkatan produksi jang baru kita tjapai, da-
lam djangka pandjang akan tidak terasa hasilnja,
karena dikedjar oleh pertambahan djumlah penduduk
jang lebih besar.
Segi lain jang mengkaitkan masalah penduduk de-
ngan soal ekonomi dan kesedjahteraan adalah masalah
transmigrasi. Meskipun dalam Rentjana Pembangunan
Lima Tahun pertama ini transmigrasi belum dilaksa-
nakan setjara besar-besaran, tetapi pemikiran-pemi-
kiran dan perentjanaan pelaksanaan transmigrasi
dalam gelombang jang lebih besar dalam waktu-waktu
jang akan datang harus kita lakukan sekarang. Ke-
terlambatan pelaksanaan transmigrasi sesuai dengan
rentjana akan lebih menjulitkan kelantjaran perkem-
bangan ekonomi dalam djangka pandjang.
-32-
Saudara-saudara sekalian;
Memang dewasa ini masih banjak segi-segi kese-
djahteraan masjarakat dan keluarga jang belum dapat
diusahakan oleh Pemerintah. Sebagian karena biaja
untuk itu belum tersedia, sesuai dengan urutan pri-
oritasnja, sebagian lagi karena terwudjudnja kese-
djahteraan itu djuga mendjadi bagian dari tanggung-
djawab masjarakat atau keluarga sendiri.
Satu segi kesedjahteraan jang sangat vital dan
bahkan menentukan adalah pendidikan jang sama seka-
li tidak boleh kita abaikan dari sekarang djuga.
Dasar-dasarnja sudah harus kita letakkan dan segala
usaha jang telah dapat kita lakukan djangan ditun-
da-tunda.
Dasar dan arah pendidikan itu haruslah berkem-
bangnja warga negara jang meresapi dasar negaranja
Pantja Sila, jang sehat badan dan tjerdas fikiran-
nja, jang memiliki inisiatif dan demokratis, jang
bermoral tinggi dan berwatak kuat, jang bertang-
gung-djawab kepada Bangsa dan pembangunan selan-
djutnja. Setjara konkrit sistim pendidikan dan ha-

sil pendidikan haruslah berisi dan menjiapkan ke-
mampuan bagi anak didik untuk hidup dalam masjara-
kat jang kompleks itu, sehingga mendjadi anggota

jang berguna bagi masjarakat dan dapat turut serta
aktif dalam kegiatan pembangunan.
Begitu luas masalah pendidikan ini, sehingga
djelas bukan hanja tanggung-djawab Pemerintah sa-
dja, melainkan djuga tanggung-djawab orang tua dan
masjarakat. Pendidikan dibangku sekolah, hanja se-
bagian sadja dari pendidikan jang sebenarnja.
Pendidikan jang kita tjita-tjitakan memang ha-
rus menampilkan berkembangnja kebebasan. Akan teta-
pi, kebebasan inipun bukannja tanpa arah. Kebebasan
anak-didik kita harus diarahkan kepada berkembang-
nja bakat, berpandangan luas, tjinta kepada masja-
-33-
rakat dan alam; jang kesemuanja itu sangat diperlu-
kan untuk pembaharuan masjarakat jang terus mem-
bangun.
Terus-terang, dewasa ini, sebagian masjarakat
merasa gelisah melihat perkembangan kebebasan jang
dilakukan masjarakat dan pemuda-pemudi kita, seba-
gian mengatakan adanja "dekadensi moral".
Sebenarnja pemuda-pemudi kita tidak merosot
moralnja, masjarakat kita tidak bobrok. Memang ada
golongan ketjil masjarakat jang menjalah-arahkan
kebebasan ini: pergaulan bebas tanpa batas, meni-
ru-niru kebudajaan asing dan tingkah laku jang ti-
dak ada manfaatnja, membuat tulisan dan menjebarkan
gambar-gambar jang mengeksploitir nafsu-nafsu ren-
dah dan sebagainja.
Gedjala-gedjala negatif ini merupakan tantangan
bagi masjarakat, merupakan tantangan bagi kebebasan
jang sekarang sedang kita tegakkan. Inilah sebab-
nja, sedjak semula saja selalu mengadjak kita se-
muanja untuk bidjaksana dan bertanggung-djawab da-
lam menggunakan setjara positif kebebasan jang se-
dang kita tegakkan.
Kita memang tidak menolak pengaruh-pengaruh
asing, mempeladjari dan memanfaatkan kebudajaan
asing. Akan tetapi, kita harus dapat memilih mana
jang baik dan mana jang tidak baik, djangan kita
meniru hal-hal jang buruk, bahkan merusak.
Saja menjerukan kepada orang-orang tua, para
pendidik, organisasi Pramuka, organisasi-organisasi
pemuda-peladjar-mahasiswa, pemuka-pemuka agama,
perkumpulan-perkumpulan olah-raga dan kesenian,
hendaknja dapat menjalurkan suasana kebebasan jang
sekarang telah kita nikmati ini kearah jang baik.
Kegiatan-kegiatan keolah-ragaan, kesenian jang se-
hat, merupakan lapangan jang sangat luas bagi pe-
njaluran bakat-bakat dan sifat-sifat positif bagi
anak-anak dan adik-adik kita.
-34-
Saudara-saudara sekalian;

Dalam rangka peningkatan kesedjahteraan rochani
ini, saja perlu menjinggung soal pelaksanaan ibadah
hadji bagi ummat Islam, jang dalam tahun ini mulai
dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan baru.
Kebidjaksanaan Pemerintah jang baru ini tidak
lain adalah dimaksudkan untuk memudahkan dan melan-
tjarkan pengurusan pelaksanaan djemaah hadji bagi
mereka jang – sesuai dengan ketentuan agama – me-
mang mampu mengamalkan rukun agama tersebut. Dengan
demikian kebidjaksanaan Pemerintah ini sama sekali
bukan untuk "menghalang-halangi" pelaksanaan ibadah
agama ini. Pemerintah djuga memperhatian keingin-
an-keinginan ummat Islam agar Pemerintah melin-
dunginja dari "usaha-usaha swasta" dan perbuatan
mereka jang tidak bertanggung djawab seperti jang
terdjadi dalam musim hadji jang lalu. Kebidjaksana-
an jang sekarang ditempuh, djelas menghilangkan ke-
sempatan bagi orang-orang jang tidak bertanggung
djawab ini, menghapuskan kotum-kotum hadji "isti-
mewa", bahkan mendjamin mereka jang benar-benar
telah siap untuk melaksanakan ibadahnja itu. Dahu-
lu, ribuan tjalon hadji menunggu bertahun-tahun
tanpa ketentuan; sekarang ada kepastian keberang-
katannja. Bagi mereka jang belum tjukup biajanja,
bahkan diberi kesempatan untuk menabung.
Dalam pada itu dengan tidak digunakannja subsidi
hadji mulai tahun ini, berarti bahwa akan terdapat
dana jang tjukup besar untuk digunakan bagi pembia-
jaan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnja.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka kebi-
djaksanaan jang telah digariskan itu telah berjalan
dengan semestinja dan akan tetap dilaksanakan.

Saudara-saudara sekalian;

Sementara kita sibuk dengan urusan-urusan dalam
35 –
negeri jang masih banjak itu, kitapun tidak mema-
lingkan muka dari masalah-masalah dunia. Djustru
untuk memperlantjar pembangunan jang sedang kita
laksanakan sekarang, perdamaian dunia adalah kepen-
tingan kita jang utama. Prinsip-prinsip
politik
luar negeri kita jang bebas aktif itulah jang sela-
lu kita pegang teguh dalam pengembangan hubungan

luar negeri dengan negara-negara sahabat didunia

ini. Setiap langkah jang kita ambil pasti kita per-
hitungkan kemanfaatannja demi kepentingan Nasional,
seperti jang digariskan oleh Ketetapan MPRS.
Pendirian kita tjukup djelas terhadap masalah-
masalah dunia, jang sekarang memang masih djauh
daripada perdamaian jang sebenarnja
mendjadi
tjita-tjita setiap ummat manusia; ialah: biarkan

setiap bangsa berkembang menurut kepribadiannja

masing-masing, hargailah kedaulatan dan integritas
setiap bangsa, segala bentuk pendjadjahan harus

lenjap; dan diatas dasar-dasar tadi bangsa-bangsa
akan dapat hidup berdampingan setjara damai, saling
bantu-membantu dan bekerdjasama jang saling
menguntungkan.
Konsep ini bukan lamunan, melainkan dapat di-

laksanakan, dan sekarang main disadari oleh banjak
bangsa-bangsa. Memang, masih ada bangsa-bangsa jang
ingin memaksakan kehendaknja kepada bangsa lain,

akan tetapi, hal ini akan dapat diatasi apabila

kita memiliki ketahanan
Nasional jang kuat dalam

segala bidang.
Itulah sebabnja kita tidak menerima segala ben-

tuk pakta-pakta militer. Pakta-pakta militer ter-

bukti bukan bentuk pertahanan jang efektif; karena

akan dapat memperlemah ketahanan Nasional dan ke-

pribadian Nasional kita. Disamping itu pakta-pakta
militer hanja akan mengundang fihak lain memperkuat
persendjataan dan membentuk pakta-pakta militer
tandingan.
– 3 6 –
Kadang-kadang kita bertanja dalam lubuk hati
kita, mengapa orang membentuk pakta-pakta militer
jang berbau kekerasan dan mengandung bahaja kehan-
tjuran itu ? Mengapa orang tidak membentuk pakta-
pakta perdamaian atau pakta-pakta pembangunan untuk
kebahagiaan bersama ?

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;

Dalam menerima bantuan dan kerdjasama ekonomi
luar negeri, kita setjara terus terang berkata,
bahwa bantuan itu tidak akan kita terima djika di-
sertai ikatan politik. Prinsip ini kita perlakukan
sama, baik dengan negara jang biasa disebut "blok
Barat" maupun dengan "blok Timur". Memang, saat ini
kita banjak mendapatkan bantuan-bantuan njata dari
"blok Barat", akan tetapi hal ini djelas bukan ka-
rena kita menutup pintu terhadap bantuan jang ber-
asal dari "blok Timur". Sementara ini, projek-pro-
jek Pembangunan dengan kredit dari negara-negara
Sosialis djuga tetap kita teruskan, dan kerdjasama
tetap kita usahakan. Sebagian projek-projek jang
tertunda, jang kebetulan berasal dari bantuan nega-
ra Sosialis, penjelesaiannja bukan didasarkan atas
pertimbangan-pertimbangan politik, melainkan semata-
mata disesuaikan dengan prioritas-prioritas pem-
bangunan dewasa ini dan kemampuan-kemampuan pembia-
jaan selandjutnja. Pabrik semen Tonasa telah kita
selesaikan tahun jang lalu dengan bantuan kredit
Pemerintah Tjekoslovakia. Pabrik Citronella di Sala
dan Projek Elektromotor sekarang sedang kita sele-
saikan dengan kredit Bulgaria. Pabrik pemintalan di
Palembang telah diselesaikan berdasarkan kredit
Djerman Timur dan lain-lainnja. Dengan Jugoslavia
hubungan kita sangat baik: dewasa ini kerdjasama
dalam menjelesaikan berbagai projek seperti hydro-
electric di Makasar dan pembuatan alat-alat berat
untuk perbaikan djalan di Surabaja sedang berdja-
lan. Dewasa ini kita djuga sedang menantikan keda-
– 3 7 –
tangan missi ekonomi dan tehnik dari Uni Soviet.
Sidang jang terhormat;
Untuk kesekian kalinja kita merasa bersjukur,
bahwa kita memiliki ideologi jang berakar pada ke-
pribadian kita. Ideologi jang sesuai dengan kepri-
badian bangsa inilah sjarat utama bagi ketahanan
Nasional, disamping ketahanan dibidang ekonomi, so-
sial, kebudajaan dan pertahanan-keamanan.
Kita dewasa ini memberi prioritas jang tinggi
bagi pembangunan ekonomi, djustru untuk meningkat-

kan ketahanan Nasional kita, jang dibidang ekonomi
ini memang sangat parah.
Itulah sebabnja, sebagian kita kadang-kadang
bertanja, mengapa suara Indonesia didunia luar ti-
dak lagi "hebat" seperti dulu, seolah-olah kita su-
dah melepaskan tjita-tjita dan peranan dalam mewu-
djudkan perdamaian dunia.
Tidak. Tjita-tjita kita tidak berobah dan pera-
nan itu hares tetap kita sumbangkan.
Soalnja ialah, bahwa kita akan dapat memainkan
peranan jang lebih efektif apabila kita sendiri me-
miliki ketahanan Nasional tadi.
Sementara ini, kita djuga tidak tinggal diam,
melainkan tetap memberikan peranan jang sesuai de-
ngan kemampuan-kemampuan jang ada.
Perhatian kita sekarang kita tudjukan kepada
usaha bersama membina stabilitas diwilajah kita
ini, berdasarkan politik bertetangga baik, dalam
bentuk kerdjasama regional, ASEAN.
Dengan adanja perhimpunan bukan berarti bawa
angggota-anggotanja menjadi "tergantung" satu
terhadap jang lain; hal ini adalah negatif dan me-
lemahkan. Tudjuan kita adalah kerdjasama jang har-
monis, jang masing-masing anggotanja dapat mengem-
– 3 8 –
bangkan ketahanan Nasional dan kepribadiannja sen-
diri. Disamping itu dengan Perhimpunan itu ingin
kita tjiptakan kerdjasama dan saling pengertian,
sehingga mampu menjelesaikan segala persoalan ber-
sama jang menjadi kepentingan bersama diwilajah
ini. Sebagai langkah-langkah konkrit untuk memper-
kuat Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara ini,
kita berusaha menjelesaikan projek-projek bersama
dibidang sosial dan ekonomi seperti: pariwisata,
transport dan komunikasi, pemasaran hasil-hasil
produksi tertentu, peranan mass-media dan sebagai-
nja.
Mengenai Vietnam – sesuai dengan prinsip-prin-
sip kita pendapat rakjat Vietnam sendirilah jang
harus menentukan masa depan negara tersebut.
Kita mengharapkan, agar Konperensi Paris dapat
membawa penjelesaian jang disetudjui oleh semua fi-
hak dan menjambut gembira keputusan rakjat Amerika
Serikat untuk menarik pasukan-pasukannja dalam
rangka mentjiptakan perdamaian dinegara tersebut,
jang bebas dari segala pengaruh asing.
Pendirian kita tentang kedaulatan mutlak setiap
bangsa jang merdeka adalah djelas. Kita menentang
segala bentuk agresi, baik terang-terangan maupun
terselubung, dengan dalih apapun.
Dalam persoalan Timur Tengah kita berdiri difi-
hak rakjat Negara-negara Arab, jang memang memiliki
hak-haknja jang adil atas tanah-airnja sendiri.
Kita tidak dapat membenarkan usaha-usaha Israel
merobah dengan kekerasan status kota Jeruzalem, ko-
ta sutji ketiga bagi ummat Islam itu. Sementara
itu, kita mengharapkan agar ada kekompakan pendapat
dan perdjoangan diantara bangsa-bangsa Arab sendi-
ri; sehingga memudahkan kita dalam menjokong per-
djoangannja itu.
Dalam perdjoangan untuk mewudjudkan perdamaian
– 3 9 –
diforum dunia, kita mendukung sepenuhnja gagasan
untuk mengadakan konperensi negara-negara non-
aligned.
Kita mendukung sepenuhnja prakarsa Presiden Ti-
to untuk mengadakan konperensi tingkat tertinggi
negara-negara non-aligned berdasarkan penilaian,
bahwa dengan persatuan jang kuat dari negara-negara
jang tidak terikat pada salah satu negara besar
jang saling berhadap-hadapan, akan merupakan sum-
bangan jang besar dan berpengaruh bagi tertjiptanja
perdamaian didunia ini.
Saja telah menjerukan kepada Presiden Tito,
agar persiapan-persiapan kearah konperensi jang sa-
ngat penting itu dipersiapkan sebaik-baiknja; agar
didalam konperensinja nanti benar-benar terdapat
persamaan dasar dan pendapat diantara negara-negara
non-aligned.
Saudara-saudara sekalian;
Dibidang keamanan, maka pelaksanaan operasi-
tempur menumpas pemberontakan bersendjata PGRS di
Kalimantan dapat dikatakan telah selesai; dan kini
memasuki kegiatan-kegiatan operasi territorial
untuk rehabilitasi dan memulihkan kehidupan seha-
ri-hari dari Rakjat.
Dalam pemulihan keamanan ini, saja minta perha-
tian chusus dari kita semuanja mengenai penjelesaian
tahanan-tahanan PKI. Sedjak semula, kita menumpas
pemberontakan
G-30-S/PKI
bukanlah
karena
alas-
an-alasan balas dendam, melainkan karena alasan
prinsipiil. Tudjuan kita jang utama adalah menjela-
matkan Pantja Sila. Oleh karena itu, penjelesaian
tahanan PKI-pun harus kita lakukan sesuai dengan
kebesaran djiwa Pantja Sila; dengan tetap memperha-
tikan keamanan Nasional berdasarkan hukum.
Mereka jang njata-njata tidak bersalah dan da-
pat kita bawa kembali mendjadi warga negara Pantja
– 4 0 –
Silais, harus kita terima kembali dalam masjarakat.
Dalam rangka penjelesaian tahanan G-30-S/PKI ini,
saja minta pengertian dan bantuan masjarakat, chu-
susnja dalam pembinaannja. Sebaliknja saja djuga
menegaskan bahwa terhadap siapapun, jang akan me-
ngembalikan PKI di Indonesia, alat-alat negara akan
bertindak dengan tegas.
Djustru untuk ketertiban, maka tindakan-tinda-
kan penahanan hanja dilakukan oleh alat-alat negara
jang berwenang. Saja minta agar masjarakat tidak
saling tjuriga-mentjurigai, atau tuduh-menuduh jang
membawa perpetjahan, oleh karena perpetjahan itulah
jang memang ditunggu-tunggu dan diusahakan oleh si-
sa-sisa kekuatan gelap PKI ini.
Pada kesempatan ini saja mengumumkan bahwa se-
djumlah lebih kurang 2500 tahanan G-30-S/PKI segera
akan diberi lapangan hidup baru dipulau Buru. Saja
perlu menegaskan, bahwa usaha-usaha ini djustru me-
rupakan manifestasi kebesaran djiwa Pantja Sila ki-
ta, dan diharapkan merupakan langkah positif kearah
penjelsesaian masalah tahanan G-30-S/PKI jang tidak
memerlukan penjelesaian pengadilan.

Saudara Ketua dan Sidang jang terhormat;
Tugas-tugas mewudjudkan kesedjahteraan dan ke-
amanan harus kita lakukan sedjadjar dengan tetap
memperhatikan prioritas-prioritas jang telah dite-
tapkan.
Oleh karena itu, terutama agar ABRI dapat me-
laksanakan tugas pokoknja dengan baik, ABRI dan ma-
sing-masing Angkatan – sebagai alat HANKAM – di-
usahakan untuk dikembalikan kepada fungsinja ma-
sing-masing jang wadjar, agar diperoleh efisiensi
dan efektivitas jang maksimal.
Langkah penting kearah pengembalian tugas pokok
dan fungsi Angkatan-angkatan itu, antara lain telah
kita tempuh dengan mengembalikan Kepolisian Negara
– 41 –
Republik Indonesia pada kedudukkannja jang wadjar.
Walaupun tindakan-tindakan prinsipiil ini baru ber-
djalan beberapa bulan, hasil-hasil positifnja telah
mulai terasa.
Ketertiban masjarakat, sebagai sjarat mutlak
bagi kelantjaran Pembangunan, memerlukan alat Nega-
ra jang dapat sepenuhnja mentjurahkan perhatian dan
kegiatannja kepada tugas tersebut. Walaupun demi-
kian, saja minta kepada kita semuanja – baik apara-
tur Negara sendiri, ABRI maupun masjarakat – untuk
bersama-sama merasa bertanggung djawab dalam mewu-
djudkan ketertiban jang kita maksudkan, bukan sadja
harus dipaksakan oleh alat-alat Negara berdasarkan
hukum, melainkan djuga harus dibina oleh masjarakat
sendiri.
Pengembalian ABRI kepada fungsinja, tidak mero-
bah kedudukan ABRI sebagai kekuatan sosial-politik
dan golongan karya; sama halnja tidak ada perobahan
pada kedudukan dan fungsi kekuatan sosial-politik
dan golongan karya jang lain.
Pengembalian ABRI kepada fungsinja, djuga tidak
mengurangi kewadjiban-kewadjiban ABRI dalam memban-
tu suksesnja Pembangunan Lima Tahun ini.
Kepada semua golongan, kepada partai-partai po-
litik dan organisasi-organisasi massa, jang meragu-
kan kedudukan dwifungsi ABRI dan chawatir akan
menggunakan kedudukannja tersebut untuk menjeleweng
dari demokrasi, saja serukan agar tidak perlu cha-
watir atau "takut". ABRI djelas tidak akan menjadi
diktator, ABRI djelas tidak akan memonopoli ke-
kuasaan.
Bagi kita soalnja bukan siapa jang berkuasa,
bukan "sipil menguasai ABRI" atau "ABRI menguasai
sipil", bahkan ABRI tidak mempersoalkan hubungan
ABRI – sipil. Bagi kita soal jang terpenting adalah
tumbuhnja kekuasaan demokratis berdasarkan Pantja
Sila; jang melaksanakan kehendak Rakjat, jang didu-
-42-
kung oleh Rakjat dan dikontrol oleh Rakjat. ABRI
adalah
sebagian
dari
Rakjat
Kepada
seluruh
warga ABRI baik is Djenderal ataupun Pradjurit, sa-
ja serukan agar benar-benar menjadari kedudukan dan
tanggung-djawabnja jang besar dan berat itu. Hen-
daknja selalu didjaga dan dapat dihindari sedjauh
mungkin perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan
jang
menimbulkan
kesan
kepada
masjarakat,
bahwa
ABRI bertindak sewenang-wenang, main hakim sendiri
dan sebagainja. Sebaliknja bawakan dan amalkanlah
se-baik-baiknja sebelas azas-azas kepemimpinan ABRI
jang telah menjadi pedoman perbuatan kita sehari-

hari.
Sorotan-sorotan jang tadjam dari masjarakat
djuga ditudjukan kepada pegawai-pegawai dan pedja-
bat-pedjabat negeri kita, antara lain, karena dira-
sakan adanja tindakan-tindakan birokratis jang ber-
lebih-lebihan, lamban, belum tertib dan korup.
Bahkan ada jang meragukan berhasilnja usaha-
usaha Pemerintah dan pelaksanaan pembangunan, djus-
tru karena aparatur pelaksana umumnja, termasuk pe-
gawai-pegawai negeri dan ABRI, baik tehnis maupun
mental belum slap dan tidak akan mampu melaksana-
kannja.
Sebagian masjarakat berpendapat, bahwa hal-hal
itu disebabkan karena "rendahnja gadji" mereka,
djumlah pegawai jang terlalu besar dan kesimpang-
siuran tata kerdja. Rendahnja gaji pegawai dan ABRI
adalah suatu kenjataan, tetapi saja jakin bahwa
tindakan-tindakan korupsi dan penjalah-gunaan ini
sebenarnja hanja dilakukan oleh segolongan ketjil
dari seluruh pegawai negeri kita. Sebagian besar
masih tjukup djudjur dan berusaha bekerdja sebaik-
baiknja.
Pegawai negeri jang sedjati selalu bangga akan
tugasnja, memiliki harga dire dan kegairahan beker-
dja dan mereka tjukup menjadari pula kesulitan-ke-
sulitan jang masih dihadapi Rakjat dan Negara. Jang
mereka harapkan adalah penghargaan dan perhatian
– 43
dari Negara dan Rakjat serta harapan hari depan
jang baik, terutama bagi putera-puteranja generasi
jang akan datang.
Dalam pada itu djelas bahwa Pemerintah tidak
tinggal diam dan bekerdja keras pula untuk mengada-
kan penertiban-penertiban jang diperlukan.
Perbaikan administrasi dan aparatur pada umum-
nja jang merupakan sjarat mutlak bagi kelantjaran
pelaksanaan pembangunan – tidak dapat dipisahkan
dari program pembangunan aparatur jang merupakan
bagian pula dari Rentjana Pembangunan Lima Tahun.
Hal-hal negatif, seperti korupsi, penjelundup-
an, penjalahgunaan wewenang, pungutan-pungutan liar
dan sebagainja, memang tidak akan dibiarkan; dan
tindakan-tindakan telah djuga diambil, baik terha-
dap pegawai-pegawai sipil, karjawan-karjawan
Perusahaan-perusahaan Negara, Bank-bank maupun
anggota ABRI. Demikian djuga langkah-langkah peman-
faatan jang tepat dari karyawan dan kekajaan dalam
lingkungan Perusahaan-perusahaan Negara terus di-
usahakan.
Saja minta, agar langkah-langkah ini tidak
menggelisahkan pegawai negeri dan karyawan-karyawan
lainnja. Langkah-langkah tadi diambil oleh Pemerin-
tah djustru untuk memperkuat aparatur Negara dan
aparatur perekonomian Negara. Tindakan-tindakan te-
gas memang dikenakan kepada mereka jang bersalah;
dan pendaja-gunaan tenaga tidak dimaksud untuk men-
terlantarkan pegawai/karyawan.
Chusus mengenai masalah penjelundupan, perlu
diperhatikan bahwa tidak djarang penjelundupan itu
terdjadi disebabkan oleh. adanja kelalaian ataupun
bantuan – sadar atau tidak – dari oknum alat-alat
negara sendiri, baik is oknum ABRI, oknum Bea Tju-
kai ataupun oknum sipil lainnja.
Dalam hal ini saja ingin mengingatkan bahwa
penjelundupan ini sangat merugikan, bukan sadja
bagi pemasukan uang negara, melainkan dapat
mematikan usaha-usaha ekonomi didalam negeri.
– 44 –
Perlu sangat disadari bahwa "keuntungan" jang
diperoleh para "pembantu" penjelundup itu sebenar-
nja tidak seberapa dibandingkan dengan jang diper-
oleh pelaku penjelundupnja sendiri, jang biasanja
pedagang atau orang dari luar negeri. Oleh karena
itu penjelundupan sematjam ini perlu diberantas dan
setiap alat negara jang bertugas dalam bidang ini
harus benar-benar berusaha untuk melaksanakan tu-
gasnja sebaik-baiknja.
Disamping berbagai langkah-langkah penjempurna-
an dan penertiban jang telah saja sebutkan tadi,
maka Pemerintah djuga selalu berusaha untuk memper-
baiki nasib pegawai negeri dan anggota ABRI, baik
dengan perbaikan gadji, maupun dengan tindakan-tin-
dakan kesedjahteraan lainnja jang mungkin.
Sebagai prinsip umum, perbaikan nasib pegawai
dan ABRI harus kita petjahkan dalam rangka seluruh
usaha perbaikan nasib Rakjat, nasib kita semuanja,
melalui Pembangunan Lima Tahun dan Pembangunan-
pembangunan selandjutnja.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Saja mengetahui, bahwa kita belum puas atas ha-
sil-hasil jang kita tjapai sekarang ini.
Ketidak-puasan ini wadjar, djustru karena manu-
sia selalu mengedjar perbaikan. Kita merdeka untuk
menentukan nasib ditangan kita sendiri; dan seka-
rang, kita membangun untuk memperbaiki nasib kita
itu
Tiga tahun jang lalu tuntutan Rakjat hanja "tu-
runkan harga beras". Hari ini, tuntutan kita bukan
itu lagi; dan djauh lebih banjak lagi.
Tuntutan itu memang mendjadi kewadjiban Peme-
rintah, kewadjiban saja sebagai Mandataris, untuk
melaksanakannja. Akan tetapi, lebih dari hanja tun-
tutan, is adalah kewadjiban kita semuanja.
45
Kita semuanja memikul tanggung-djawab jang sama
besar, jang berbeda adalah luasnja dan tempat tang-
gung-djawab itu; sesuai dengan tempat kita masing-
masing dalam masjarakat dan Negara
Kita semuanja, wadjib dan dapat memberikan
andil; Menteri, pegawai negeri, pradjurit ABRI, pe-
dagang ketjil, petani, buruh, pers, mahasiswa, pe-
ladjar, pemuda, alim-ulama, tjendekiawan, pengusaha-
pengusaha, kita semuanja.
Kepada suksesnja Pembangunan ini marilah kita
pertaruhkan segala-galanja! Kemakmuran adalah tjita-
tjita kita; Pembangunan adalah kewadjiban dan
kehormatan kita.
Apabila pada saat ini ada bahaja jang paling
besar mengantjam kita bahaja itu adalah kegagalan
Pembangunan Lima Tahun.
Kegagalan Pembangunan ini, bukan hanja berarti
hilangnja kepertjajaan kepada Pemerintah, melainkan
berarti hantjurnja hasil-hasil kemadjuan ekonomi
jang dengan susah-pajah kita tjapai hingga saat ini.
Perekonomian jang lebih buruk, pasti mengakibatkan
kembalinja PKI dan hantjurnja Pantja Sila.
Tetapi, Insja Allah, kita tidak akan gagal, ka-
rena kita telah mentjapai kemadjuan dan kita tidak
Mau gagal!
– 46 –










Kita terus memandang masa depan dengan penuh
kejakinan dan kemauan bekerdja. Kita terus bersa-




tu-padu bersama-sama membangun masa depan itu.

Semoga Tuhan Jang Maha Esa memberkahi kita se-
muanja.

Terima kasih.


Djakarta, 16 Agustus 1969.
Presiden Republik Indonesia,
SOEHARTO
Djenderal T.N.I.

47

Document Outline

  • PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DJENDERAL SOEHARTO
    • DI DEPAN SIDANG DPR-GR
      • REPUBLIK INDONESIA
        • SOEHARTO Djenderal T.N.I.

Leave a Reply