Pidato Hjkekjhfkjhkjehrfewrfwe Islam adalah Agama Allah

Assalamualaikum Wr…. wb

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah mempertemukan kita pada hari ini dalam suasana yang penuh rahmat hidayah dan inayah-Nya

Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Allah  Muhammad s.a.w karna kita selalu mengharapkan safaat-nya didunia maupun di akherat nanti

Yang terhormat dewan juri yang arif dan bijaksana

Yang terhormat rekan- rekan peserta lomba pidato

Yang terhormat hadirin wal hadirat rahimakumullah.

Pada kesempatan yang mulia ini saya akan menyampaikan sebuah uraian yang berjudul "Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin"

Islam adalah agama Allah yang terakhir. Pemeluk – pemeluk atau  pengikut – pengikutnya disebut Muslim. Islam mengajarkan kepada kita seluruh umat islam tentang Hablumminallah Dan Hablumminannas, maksudnya  hubungan baik antara manusia dengan Allah, dan hubungan baik antara  manusia dengan manusia.

Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuh-tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia"Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai  rahmat bagi seluruh alam semesta (Q.S. Al­anbiya : 107)Hadirin sekalian

Didalam ayat diatas, Allah SWT menerangkan bahwasanya Nabi Muhammad diutus menjadi rahmat atau kebaikan bagi seluruh alam semesta termasuk manusia. Untuk apa ? yaitu untuk memperbaiki masyarakat, untuk mengatur  pergaulan, dan menyempurnakan ahlak manusia.Hadirin wal hadirat rahimakumullahDidalam agama islam kita dilarang berlaku semena – mena terhadap mahluk ciptaan

Allah.Rosullullah bersabda :Artinya : Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas (HR. Muslim)

Wahai sahabatku. Mengapa kita tidak boleh semena-mena ? karna mahluk lain seperti hewanpun mendapat rahmat Allah pula, baik hewan kecil, hewan jinak, ataupun buas sekalipun, dan jika kita dengan sengaja  memperlakukan mahluk ciptaan Allah dengan kasar, dengan brutal, pastilah Allah akan meminta pertanggung jawabannya.Wahai sahabatku sungguh indah islam, dengan hewan saja tidak boleh semena-mena, apalagi dengan sesama manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran­ajaran islam. Maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini. Nabi Muhammad saw diutus dengan membawa ajaran islam, maka islam adalah rahmatan lil alamin, ajaran islam adalah rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta.

Hadirin wal hadirat rahimakumullah

Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbanyak didunia. Maka melihat keterangan diatas seharusnya Indonesia menjadi Negara yang indah, damai dan beradab. Tapi lihat saja kenyataan, kita tidak bisa menutup mata dan telinga dengan pemberitaan sehari­hari yang Menggemparkan, Menyedihkan dan tak beradab. Mulai dari anak­anak yang melakukan pencabulan, remaja yang melakukan tauran antar sekolah, kumpul kebo, minum­minuman keras. Orang Tua yang mencabuli anaknya sendiri, membunuh karna hal sepele, bunuh diri, mutilasi dan lain sebagainya. Bahkan sampai­sampai pejabat kita yang melakukan tindakan asusila, dan korupsi besar­besaran.Hadirin sekalian

Sebenarnya apa yang terjadi ? dimana moralnya ? bukankah sebagian mereka adalah muslim ? bukankah seorang muslim seharusnya menjadi Rahmatan lil alamin ?

Maka jawabannya adalah tidak memahami dan menjalankan ajaran islam secara kaffah. Jika mereka tahu bahwa membunuh binatang dengan semena­mena saja dilarang oleh islam, mana mungkin sampai berani membunuh sesama manusia, apalagi sesama muslim.  Jika mereka tahu bahwa islam melarang mencuri dan menipu dan mereka menjalankan larangan itu. Mana mungkin mereka melakukan korupsi.

Rosullullah saw bersabda :Yang artinya : Orang Islam itu adalah orang yang orang­orang islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah (Hr. Bukhari).

Hadirin wal hadirat rahimakumullah

Kita sebagai generasi Islam haruslah mempunyai ilmu, ilmu agama dan ilmu dunia. Agar kita menjadi khalifah dibumi Allah, agar kita bisa menyebarkan ajaran islam yang rahmatan lil alamin. Janganlah takud untuk berubah menjadi lebih baik lagi, jangan takud untuk terus belajar dari kesalahan.

Rosullullah saw bersabda :Yang artinya : Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik,maka ia akan dipahamkan dalam urusan agama (Hr. Bukhari)Hadirin sekalian Sekarang Negara kita, Negara yang kita cintai sedang mengalami krisis moral. Jadi kita sebagai generasi penerus bangsa , generasi harapan bangsa, generasi muda Indonesia bersama­sama membangun dan memperbaiki kita ini, karna yang bisa memperbaiki nasib atau keadaan Negara yang kita cintai ini hanyalah kita generasi muda . Allah swt berfirman dalam Al­Quran surat Ar­radu ayat 11 yang berbunyi :Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah nasibnya sendiri, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S.Ar­radu :11)Hadirin wal hadirat rahimakumullah

Jadi marilah kita simpulkan, bahwasanya agama kita adalah agama rahmat bagi seluruh alam semesta. Agama yang menjunjung tinggi kasih sayang, sayang terhadap sesama saudara seiman, agama pilihan kita. Agama yang menjadi cahaya bagi kita semua.

Sesungguhnya agama disisi Allah adalah islamHadirin sekalianSemoga kita selalu di Rahmati Allah, dicintai Allah, dan dimasukan kedalam golongan orang­orang yang dirindukan surganya Allah. Aamiin yarabbal alamin.Dan kita sebagai gerasi muda islam terus memberikan yang terbaik untuk bangsa kita ini, karna kita mempunyai peranan sangat penting didalam masyarakat. Sebuah kata bijaksana mengatakan bahwa Pemuda hari ini, adalah pemimpin dimasa depan

Hadirin yang insyaAllah dimuliakan Allahhanya ini yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini mohon maaf atas segala kekurangan dan pada Allah saya mohon ampun. Karna saya hanyalah orang yang fakir, fakir ilmu, fakir harta, satu pesan untuk kita semua Sebelum Anda menasehati orang lain maka nasehatilah diri anda terlebih dahulu, karna sebaik­baiknya manusia adalah yang mempunyai ahlak yang muliaAkhirul kalamWallahul Muwafiq Ila Aqwa Mith Thariq

Wassalamualaikum wr… wb

Keutamaan takwa

Ma`aasyiral Mu`miniin Rahimakumullah.

Wasiat takwa senantiasa disampaikan oleh setiap khotib di awal khutbahnya, hal ini menunjukkan sekaligus menegaskan betapa pentingnya nilai taqwa di mata Allah swt, sehingga wasiat dengan tema taqwa ini menjadi salah satu rukun khutbah. Oleh karenanya orang-orang bertaqwa memiliki kedudukan dan keutamaan tersendiri, meraih derajat yang tinggi dihadapan Allah subhaahu Wa ta`alaa,

inilah beberapa keutamaan dan kedudukan mereka ;

Pertama : Yang bertaqwa adalah yang termulia di sisi Allah swt

Allah swt mendudukkan pribadi-pribadi bertaqwa meraih derajat kemuliaan yang tinggi di sisi-Nya, demikianlah firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat ke-13

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.[QS. Al-Hujurat (49) : 13]

 

Demikianlah setelah Allah swt menyinggung kata yang mewakili jenis manusia, mereka yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, Allah swt menutup firman-Nya dengan ungkapan yang menunjukkan bahwa yang paling bertakwa dari merekalah yang paling mulia disisi-Nya tidak peduli apa warna kulit mereka, apa kebangsaan mereka, bahkan apa jenis kelamin mereka, yang bertaqwalah yang paling mulia.

Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad; Wahai sekalian manusia, sesunggunya Tuhan kalian adalah satu, ayahanda kalian adalah satu, ingatlah..! tidak ada keutamaan lebih bagi orang arab atas selain mereka, tidak pula bagi non arab atas orang-orang arab, tidak pula yang berkulit merah lebih utama dari yang berkulit hitam tidak pula yang berkulit hitam lebih utama dari yang merah, tak lain yang membuat lebih utama melainkan karena taqwa. (HR. Imam Ahmad)

Maka bagi siapapun yang ingin meraih kemuliaan tertinggi disisi-Nya, hal itu tidak akan dicapai dengan sekedar harta, kemewahan, ataupun keturunan yang banyak, namun hanya dengan taqwa. Demikian ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah,

     :    "

Wahai Rasulullah, Siapakah manusia termulia ? maka Rasulullah menjawab :                                      Yang paling bertaqwa .         

(HR. Bukhori dalam kitab ahadits al-anbiya dan Muslim dalam kitan Al-Fadhail)

Kedua : Orang-orang bertaqwa adalah para wali dan kekasih Allah swt

Hadirin yang dirahmati Allah orang-orang yang dalam dirinya bersemayam ketaqwaan akan menjadi wali sekaligus kekasih allah swt, begitu tegas Allah menyatakan dalam firman-Nya bahwa Dia mencintai orang-orang bertaqwa;

(Bukankah demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. [Qs. Ali Imran(3) : 76]

Innallaha yuhibbul muttaqin- sesunguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, petikan firman Allah swt ini juga termaktub dalam Surah At-Taubah,surah ke-9 pada ayat ke-4 dan ayat ke-7 .

Karena mereka dicintai Allah maka mereka menjadi wali-wali Allah, merekalah para auliyaaullah, para wali bukanlah yang selalu memiliki kemampuan diatas rata-rata manusia biasa, memiliki kesaktian dengan ilmu kanoragannya dan berkemampuan supranatural. Para wali Allah adalah orang-orang yang penug ketaqwaan kepada-Nya, tidak takut melainkan kepada Allah semata..

 

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.[QS. Yunus (10) : 62-63]

Ketiga : Meraih Ma`iyyatullah

Dengan ketakwaanya, pribadi bertaqwa akan dicintai Allah swt, dengan cinta-Nya, Allah akan senantiasa menganugerahkan mai`iyyah-Nya kebersamaan-Nya, inilah kesertaan dan kebersamaan khusus yang Allah berikan kepada mereka oarang-orang yang bertaqwa,

dan bertaqwaah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa [QS. Al-Baqarah(2) : 194]

Tentunya tidak ada kebersamaan yang lebih nikmat, tidak ada kesertaan yang lebih indah, tidak ada kedekatan yang lebih syahdu daripada ketika seorang hamba sedang merasa dekat dengan Tuhannya, merasa Allah swt sesantiasa menyertai dalam setiap langkahnya dalam menapaki jalan kehidupan ini. Maka dia akan berjalan mengarungi kehidupan ini; segala yang akan dia lalui dia lewati, semua itu dengan ketaqwaannya akan ia tempuh dengan ma`iyyatullah.

Keempat : Dimudahkan urusannya

Allah subhanahu wa ta`aala telah menegaskan dalam firman-Nya ;

   

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.[QS. Al-Lail (92) : 5-7]

Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang gemar berbagi, mereka mau mencurahkan sebagian harta yang mereka miliki untuk kepentingan fi sabilillah, sanggup memberi di saat lapang maupun sempit, di waktu mudah maupun sulit, semua itu karena mereka benar-benar yakin akan adanya balasan syurga, maka kelak Allah akan memberi  balasan yang baik dari apa yang telah mereka lakukan dan akan memyediakan jalan kemudahan bagi mereka dalam melakukan berbagi kebaikan .

satu hal yang  tidak boleh terlewat dari perhatian kita disaat mentadaburi ayat-ayat diatas adalah adanya kata A`tha yang berarti memberi, ini memberi isyarat kepada kita bahwa setiap kita diharapkan memiliki kontribusi, baik dengan harta yang Allah titipkan kepada kita, fikiran dan ide, atau pun jasa dan tenaga yang bisa kita berikan. Maka jika semua ini kita lakukan dengan didasari iman dan dibingkai dengan nilai ketaqwaan kepada Allah swt maka ada jaminan bahwa Dia akan memudahkan segala  urusan baik kita.

Kelima : Dilapangkan Rizkinya

Rizki adalah segala hal yang manfaat baiknya kembali kepada kita. Termasuk dalam kategori rizki adalah harta, kesehatan, ilmu, kesempatan dan peluang. Jadi rizki tidak terbatas pada harta.. Allah swt menjanjikann kepada mereka yang bertakwa untuk mendapatkan kemudahan jalan keluar termasuk di dalamnya jalan meraih rizki.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya . [QS. Ath-Thalaq (85) : 2-3)

Demikian sebagian ayat 2 dan 3 dari surah Ath-Thalaq ini memberikan gambaran kepada kita bahwa Allah swt menjamin kepada orang yang bertaqwa akan mendapatkan  jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi serta rezki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan perlu kita renungkan bersama bahwa Allah swt menempatkan firman-Nya ini di sela-sela bahasan tentang  masalah perceraian, yang bisa jadi ketika seeorang tidak lagi mampu mempertahankan keutuhan rumah tangganya sehingga kemudian bercerai- walupun perceraian adalah sesuatu yang halal namun dibenci Allah- perceraian itu terjadi tetap dalam upaya menjaga nilai ketakwaan  kepada Allah, terkadang terbersit kekawatiran masalah rezki. Dalam gambaran kondisi inilah kita mendapati seakan ayat ini menggedor kesadaran bahwa Allahlah yang Ar-Razzaq dzat Pemberi Rizki, Dialah yang menjanjikan kemudahah kepada siapa yang mau benar-benar bertaqwa kepada-Nya.

Demikianlah khutbah yang singkat ini, semoga Allah swt melipat gandaklan kekuatan kita untuk berupaya menjadi  pribadi-pribadi bertaqwa yang akan mendapat beberapa keutamaan diatas, adapun beberapa keutaman lain dari ketaqwaan akan kita sampaikan pada kesempatan yang akan datang, semoga Allah swt memberi kita umur panjang yang terhiasi dengan amalan keshalehan. Amien

Pidato Agama Islam tentang Sedekah

Assalamualaikum wr wb, Bapak-bapak/ibu-ibu beserta rekan-rekan yang saya hormati, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul ditempat yang Insya Allah penuh barokah ini, amiiin

Tidak lupa shalawat dan salam semoga terpanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, sang Nabi yang telah mengajarkan kita peka terhadap tetangga, sahabat, keluarga, dan karib kerabat dengan zakat dan sedekah.

Hadirin rahimakumullah

saya ucapkan banyak terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan untuk menyampaikan sebuah pidato tentang sedekah

sedekah mempunyai banyak sekali manfaat dan barokah diantaranya adalah :

Sedekah menjadi penyebab bertambahnya rezeki

Manfaat sedekah yang pertama adalah bahawa sedekah adalah sebab bertambahnya rezeki. Bukannya berkurang, harta kita justru akan bertambah jikalau kita bersedekah. Rasululah SAW bersabda, "Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian". (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 11)

Bahkan di dalam Ayat yang lain Allah akan melipat pahala sodaqoh kita berlipat-lipat jumlahnya. Dalam Al-Quran Surat 6:160, Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik. Bahkan di dalam Al-Quran Surat: 2: 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 x lipat. Allah SWT berfirman :

Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (Al Baqarah: 261).

Sedekah adalah perantara kepada tercapainya hakikat kebaikan

Diantara manfaat sedekah yang keduanya adalah bahwa sedekah adalah bukti nyata hakikat suatu kebaikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala dalam surat Ali Imran ayat 92:

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imran: 92)

Malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah dan melaknat orang yang bakhil

Manfat bersedekah yang ketiga adalah bahwa malaikat akan senantiasa berada dengan orang yang selalu bersedekah dan juga mendoakannya. Hal ini karena Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi, dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, Ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya. Kemudian malaikat yang satu berkata, Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil. (Muttafaq Alaih).

Mengangkat derajat

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah swt. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu karena Allah swt., Allah swt. akan mengangkat (derajatnya). (HR. Muslim)

Itulah beberapa manfaat sedekah, sebetulnya banyak sekali manffat sedekah yang akan didapat oleh seorang muslim. Karena itulah, kita tak lagi asing mendengar kisah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang amat ringan tangan dalam bersedekah. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahuanhu telah menginfakkan seluruh hartanya dalam suatu kesempatan, dan Umar Radhiallahuanhu menginfakkan separoh hartanya, sedangkan Utsman Radhiallahuanhu menyiapkan bekal seluruh pasukan al-usrah. Jika kita merasa berat dengan sedekah harta, ada banyak bentuk sedekah lain yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa Senyum dihadapan saudaramu adalah sedekah (Riwayat Muslim).

Sifat kikir, merasa rugi dan juga takut miskin adalah penghalang bagi seseorang untuk membagikan hartanya yang dimiliki, apalagi sesuatu yang amat dicintai. Padahal, di balik uluran tangan atau menyedekahkan harta itu ada keutamaan yang Allah Subhanahu wa Taala janjikan.

Mudah-mudahan dengan banyaknya kita bersedekah menjadi jalan terbuakanya ridha Allah SWT.

Wassalamualaikum wr. wb.

Kesetaraan dalam Kewajiban Beribadah dan Pahalanya

Secara umum, Islam memandang laki-laki dan wanita dalam posisi yang sama, tanpa ada perbedaan. Masing-masing adalah ciptaan Allah yang dibebani dengan tanggungjawab melaksanakan ibadah kepada-Nya, menunaikan titah-titah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hampir seluruh syariat Islam dan hukum-hukumnya berlaku untuk kaum Adam dan kaum Hawa secara seimbang. Begitu pun dengan janji pahala dan ancaman siksaan. Tidak dibedakan satu dengan yang lainnya. Masing-masing dari mereka memiliki kewajiban dan hak yang sama dihadapan Allah sebagai hamba-hamba-Nya. Berikut adalah petikan ayat-ayat al Qur`an yang menjelaskan tentang pandangan Islam dalam hal ini:

 

 Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang te

lah mereka kerjakan.  (QS. An-Nahl [16]: 97)

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. An Nisa [4]: 124)

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. (QS. Ali Imran [3]: 195)

Mujahid berkata, Ummu Salamah pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Wahai Rasulullah, kami tidak mendengar penyebutan wanita dalam masalah hijrah sedikitpun? maka turunlah ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir: 2/190, Tafsir Al Bagawy, 2/153)

Perbedaan Kodrat

Namun demikian, bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Menyetarakan keduanya dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Karena, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaan-perbedaan mendasar, hingga jika kita melihat keduanya dengan kasat mata sekalipun. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Begitu pun dari sisi sifat, pemikiran-akal, kecenderungan, emosi dan potensi masing-masing juga berbeda.

Apalagi wanita dengan tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi, sementara laki-laki tidak. Adalah tidak adil jika kita kemudian memaksakan suatu peran yang tidak sesuai dengan tabiat dan kecenderungan dasar dari masing-masing jenis tersebut.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata, Bertolak dari perbedaan mendasar ini, sejumlah hukum-hukum syariat ditetapkan oleh Allah yang Mahaadil dengan perbedaan-perbedaan pula. Sebagian hukum, kewajiban, hak dan peran yang disyariatkan oleh Allah dibedakan sesuai dengan kemampuan masing-masing dari keduanya tadi. Tujuannya adalah, agar keduanya saling melengkapi satu sama lain dan dengannya hidup ini dapat berjalan sempurna, harmonis dan seimbang. (Lihat Hirsatu al Fadhlah, hal. 18-19)

Dari sisi ini pula, Muhammad Aali al Ghamidy dalam sebuah artikel bertajuk Muqranatu al Nadzrah al Takmuliyyah al Islmiyyah bayna al Rajul wa al Mar`ati wa al Nadzrah al Tanfusiyyah al Almniyyah menjelaskan, bahwa pandangan Islam dalam model hubungan antara laki-laki dan wanita adalah hubungan saling melengkapi, bukan hubungan persaingan sebagaimana yang diinginkan oleh konsep sekuler. ( berfirman menghiyakatkan perkataan istri Imran,

Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (QS. Ali Imran [3]: 36)

Dari sini, kesetaraan, atau persamaan (dalam bahasa Arab: muswtu) antara laki-laki dan perempuan bukanlah nilai yang berasal dari pandangan Islam Islam memandang keadilan antara laki-laki dan wanita, bukan kesetaraan. Konsep kesetaraan bertolak belakang dengan prinsip keadilan. Karena adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Sementara (Lihat kritikan Syaikh al Utsaimin tentang kata al muswtu dalam Syarhu al Aqdah al Wsithiyyah, hal. 180-181)

Hukum Syariat antara Laki-laki dan Wanita

Di antara ketetapan syariat yang Allah khususkan bagi laki-laki adalah soal kepemimpinan. Allah berfirman,

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa` [4]: 34)

Posisi strategis ini Allah berikan kepada laki-laki karena ia sesuai dengan tabiat dan kodrat penciptaannya, sebagaimana yang telah disebutkan. Dalam rumah tangga, laki-laki adalah pemimpin yang bertanggungjawab menjaga dan memelihara urusan orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya dari para istri dan anak-anak, termasuk menjamin pakaian, makanan dan rumah mereka.

Bahkan, tidak hanya urusan-urusan dunia mereka, namun juga dalam urusan agama mereka. Syaikh Shalih Al Fauzan berkata, Laki-laki adalah pemimpin/penanggungjawab bagi wanita, dalam hal agamanya, sebelum dalam hal pakaian dan makanannya. (Khuthbah Jumat, Masjid Amir Mutib)

Dengan catatan, kepemimpinan atau kekuasaan seorang laki-laki atas wanita itu bermakna penjagaan, perhatian dan pengaturan, bukan dalam arti kesewenang-wenangan, otoritarian dan tekanan.

Begitu pula dalam kepemimpinan pada ranah-ranah publik seperti jabatan kepala negara, kehakiman, menejerial, atau perwalian seperti wali nikah dan yang lainnya, semua itu juga hanya diberikan kepada laki-laki dan tidak kepada wanita.

Dalam ibadah dan ketaatan, laki-laki secara khusus dibebani kewajiban jihad, shalat jumat dan berjamah di masjid, disyariatkan bagi mereka adzan dan iqamah. Syariat juga menetapkan perceraian berada di tangan laki-laki, dan bagian waris dua bagi laki-laki dan satu untuk wanita.

Adapun hukum-hukum yang khusus untuk kaum wanita juga banyak. Baik dalam ibadat, muamalat dan lain-lain. Bahkan sebagian para ulama menulis secara khusus buku-buku yang berkaitan dengan hukum-hukum wanita. (Lihat Hirsah al Fadhlah, hal. 22)

Sikap Seorang Mukmin dan Mukminah

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah menyimpulkan, dari perbedaan-perbedaan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah tersebut, maka ada tiga sikap yang harus kita ambil:

Pertama, beriman dan menerima perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan wanita baik secara fisik, psikis, atau hukum syari, serta hendaknya masing-masing merasa ridha dengan kodrat Allah dan ketetapan-ketetapan hukum-Nya.

Kedua, tidak boleh bagi masing-masing dari laki-laki atau wanita menginginkan sesuatu yang telah Allah khususkan bagi salah satunya dalam perbedaan-perbedaan hukum tersebut dan mengembangkan perasaan iri satu sama lain disebabkan perbedaan-perbedaan tersebut. Oleh karena itu Allah melarang hal itu dengan firman-Nya,

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa` [4]: 32)

Tentang sebab turunnya ayat ini, Mujahid menuturkan, Ummu Salamah berkata, Wahai Rasulullah, mengapa laki-laki berperang sementara kami tidak? Dan mengapa kami hanya mendapatkan setengah dari harta waris? Maka turunlah ayat ini. (Diriwayatkan oleh al Thabari, Imam Ahmad, Hakim dan yang lainnya)

Ketika, jika al Qur`an dengan jelas melarang untuk sekedar iri, maka apalagi mengingkari dan menentang perbedaan-perbedaan syari antara laki-laki dan wanita ini dengan cara memropagandakan isu kesetaraan gender. Hal ini tidak boleh bahkan termasuk kekufuran. Karena ia merupakan bentuk penentangan terhadap kehendak Allah yang bersifat kauni yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan perbedaan-perbedaan tabiat tadi, sekaligus bentuk pengingkaran terhadap teks-teks syari yang bersifat qathi dalam pembedaan-pembedaan hukum antara keduanya. (Lihat Hirsah al Fadhlah, hal. 22)

Wallhu alam, wa shallallhu wa sallam al nabiyyin Muhammad.