Pidato Bahasa Indonesia Ilmu Alamiah Amal Ilmiah Amaliah Dan

ILMU AMALIAH DAN AMAL ILMIAH

Yang terhormat ibu Dra. Rohani selaku guru pembimbing Bahasa Indonesia dan yang saya cintai teman-teman sekalian. Puji syukur tak henti kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang tiada henti memberikan kesehatan,nikmat, berkah serta hidayah-Nya kepada kita semua. Karena nikmat dan hidayah dari Allah yang berupa keimanan dan keislaman-lah yang membuat kita tetap kokoh berjalan di atas jalan Allah. Pada kesempatan kali ini, saya akan membawakan pidato dengan judul Ilmu Alamiah dan Amal Ilmiah. Kita lahir di bumi ini dalam keadaan tak berilmu. Oleh karena itu, setiap orang tua berkewajiban mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anaknya. Karena manusia lahir ke dunia dalam keadaan tak berilmu, maka Allah SWT memerintahkan kepada semua umat manusia, terutama umat islam untuk belajar atau menuntut ilmu sebagai bekal untuk menjalani hidup. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul: Belajarlah karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pandai dan pemilik ilmu itu tidak sama dengan orang yang bodoh.

Ilmu merupakan pijakan dalam beramal, sebagai landasan berbuat dan mengarahkan perbuatan ke arah kebaikan. Dengan ilmu kita mengetahui segalanya. Seorang bijak pernah berkata, "Ilmu tanpa amal; cacat. Dan, amal tanpa ilmu; buta." Maaf kalau perkataan orang bijak ini salah redaksi. Atau, ada istilah bangsa Arab yang tak pernah luput dari ingatan kita, "Al-‘ilmu bilaa ‘amalin, kasy-syajari bilaa tsamar". Terjemahan bahasa Indonesianya lebih kurang seperti ini: "Ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon tak berbuah.

Singkatnya, ilmu harus aplikatif. Pengetahuan yang kita peroleh harus aplikatif. Benar ya, ilmu itu harus aplikatif. Ilmu harus amaliah. Sebaliknya, beribu-ribu amal yang kita lakukan tidak akan berbuah apa-apa melainkan kelelahan. Apa maksudnya? ‘Amal yang dalam bahasa Indonesia berarti perbuatan, tidak hanya mengerahkan segenap jiwa raga dan otot, namun akal pun berperan.

Andai kata kita shalat fardlu tanpa wudlu, ya mungkin karena tidak tahu ilmunya, lantas kita shalat ber-rakaat-rakat hingga badan pegal-pegal. Apakah akan berbuah pahala? Tentunya tidak. Manusia pembelajar selalu melakukan segala pekerjaannya didasarkan pada ilmu yang ia peroleh. Amal merupakan konsekuensi dari ilmu. Untuk itu, setiap ilmu harus aplikatif, dan setiap amal harus ilmiah. Ilmu harus profesional, dan profesionalisme harus ilmiah!

Maka tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk beramal dengannya dan bersungguh-sunggguh dalam menerapkannya. Dan ini terdapat pada orang-orang yang berakal, yang dikehendaki Allah Ta’ala bagi mereka kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Jika kita mengajarkan ilmu kepada orang lain, maka kita tidak akan kehilangan ilmu pengetahuan yang kita miliki, tetapi malah semakin menambah penguasaan kita terhadap ilmu tersebut. Lain halnya apabila kita memberikan harta kepada orang lain, maka kita akan kehilangan harta itu atau bisa disebut kita tak memiliki harta itu lagi.

Sesungguhnya orang yang bodoh kelak di hari kiamat akan ditanya kenapa ia tidak belajar (mencari ilmu), sedangkan orang yang berilmu akan ditanya apa yang telah diamalkan dengan ilmunya. Jika ia meninggalkan amal, maka ilmunya akan berbalik menjadi hujjah bagi dirinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Pada hari kiamat nanti, seseorang akan digiring kemudian dilemparkan ke dalam api neraka sampai isi perutnya terburai keluar. Kemudian penghuni neraka bertanya kepadanya : Bukankah kamu dahulu menyerukan kebajikan dan melarang kemungkaran?’ Ia menjawab : Saya dahulu menganjurkan kebaikan tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang kemungkaran tapi saya sendiri mengerjakannya’."(HR. Bukhari dan Muslim).

Teman-teman sekalian, yang perlu kita ingat adalah ilmu yang kita miliki hendaknya tak membuat kita tinggi hati dan merasa lebih hebat dari orang lain. Niat menuntut ilmu hendaknya didasari dengan keikhlasan hati karena Allah SWT semata.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Jika ada kekuangan itu datangnya dari diri saya sebagai makhluk dhoif yang tak luput dari kekhilafan. Atas semua kesalahan itu, mohon dimaafkan. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT sebagai sang khalik yang maha sempurna. Akhir kata , Nuun, walqalami wamaa yasthuturuun. Fastabiqul khairot.