Teks Pidato Islam Rahmatal Lilalamin

ISLAM RAHMATAL LILALAMIN

Islam adalah agama rahmatan lil alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang bunyinya, Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah, lihat saja sabda Rasulullah sebagaimana yang terdapat dalam Hadis riwayat al-Imam al-Hakim, Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya. Burung tersebut mempunyai hak untuk disembelih dan dimakan, bukan dibunuh dan dilempar. Sungguh begitu indahnya Islam itu bukan? Dengan hewan saja tidak boleh sewenang-wenang, apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, sekali lagi, terbanyak di dunia. Maka melihat keterangan di atas, seharusnya Indonesia menjadi negara yang indah, damai, dan beradab. Tapi lihat saja kenyataannya, kita tidak bisa menutup mata dan telinga dengan pemberitaan sehari-hari yang mengabarkan tentang kisah-kisah menyedihkan dan tak beradab. Mulai dari anak-anak yang melakukan pencabulan, berjudi, menghisab sabu. Remaja tawuran antar sekolah, kumpul kebo, menjadi pengedar, minum-minuman keras. Orang tua yang mencabuli anaknya sendiri, membunuh anggota keluarga sendiri, membunuh karena masalah sepele, bunuh diri, mutilasi, dan sebagainya. Sampai kepada pejabat kita yang melakukan tindak asusila, dan korupsi besar-besaran. Hampir setiap hari kejadian semacam ini keluar di pemberitaan. Sebenarnya apa yang terjadi? Di mana moral mereka? Bukankah sebagian besar dari mereka adalah muslim? Bukankah orang muslim seharusnya menjadi rahmatan lil alamin?

Jika dikatakan tidak berpendidikan sepertinya tidak juga. Saya yakin kebanyakan dari mereka telah mengenyam pendidikan dasar, bahkan tidak sedikit yang sudah sarjana bahkan lebih. Lantas mengapa moral mereka bisa sebegitu hancurnya? Jawabannya adalah tidak memahami dan menjalankan ajaran islam secara kaffah. Jika mereka tahu bahwa membunuh binatang semena-mena saja dilarang oleh islam, mana mungkin sampai berani membunuh sesama manusia, apalagi sesama muslim. Jika mereka tahu bahwa islam melarang untuk mencuri dan menipu dan mereka menjalankan larangan itu, mana mungkin mereka berani melakukan korupsi. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Nabi bersabda, Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Sudah sangat jelas bagaimana islam menjelaskan bagaimana ciri orang islam sesungguhnya.

Jika ingin merasakan Indonesia yang damai sejahtera, maka yang harus dibenahi adalah moral bangsanya, bukan sekedar pendidikan belaka. Dan pendidikan moral yang sesungguhnya, yang komplit, dan yang diperintahkan oleh pencipta manusia adalah Islam. Setiap muslim wajib untuk belajar tentang agamanya. Dengan begitu kita akan mampu menjadi khalifah sesungguhnya di bumi sesuai tujuan diciptakannya kita, yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam. Sudah semangatkah kita untuk belajar dan mengamalkan islam? Atau kita malah lebih semangat untuk mempelajari dan mengikuti budaya Jepang atau budaya Barat dari Islam? Seberapa banyak buku Islam yang telah kita baca? Mana banyaknya dengan buku-buku selain itu?

ADAB KEPADA KEDUA ORANG TUA

Assalamualaikum wr. wb.

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu guru serta teman-teman yang saya sayangi. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatnya kepada kita sehingga bisa berkumpul di tempat ini. Tak lupa kita panjatkan doa untuk kedua orang tua kita serta bapak ibu guru yang telah mendidik, membina, dan membekali kita dengan ilmu yang banyak, sehingga kita bisa berusaha untuk menjadi orang-orang beriman, bertaqwa, berilmu, dan berakhlak mulia. Mudah-mudahan kasih sayang dan ilmu yang mereka berikan bermanfaat bagi kita semua.

Teman-teman yang berbahagia, setiap manusia sudah pasti memiliki

orang tua. Tidak satupun manusia yang lahir tanpa orang tua. Kita pun menyadari bahwa orang tua kita telah bersusah payah, siang dan malam banting tulang, memeras pikiran, sekuat tenaga memperjuangkan agar anaknya bisa hidup seperti layaknya anak-anak yang lain, bahkan selalu berusaha agar lebih baik dari anak-anak yang lain. Pada saat yang berbahagia ini, izinkan saya untuk menyampaikan betapa pentingnya berbakti kepada orang tua.

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu amal shaleh yang mulia bahkan disebutkan berkali-kali dalam Al Quran tentang keutamaan berbakti pada orang tua. Allah berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua (An Nisa: 36). Di dalam ayat ini perintah berbakti kepada dua orang tua disandingkan dengan amal yang paling utama yaitu tauhid, maka ini menunjukkan bahwa amal ini pun sangat utama di sisi Allah SWT. Begitu besarnya martabat mereka dipandang dari kacamata syariat.

Teman-teman yang berbahagia, Rosulullah menghubungkan kedurhakaan kepada kedua orang tua dengan berbuat syirik kepada Allah. Dalam hadits Abi Bakrah, beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar? para sahabat menjawab, Tentu. Nabi bersabda, (Yaitu) berbuat syirik, durhaka kepada kedua orang tua (HR. Al Bukhori).

Membuat menangis (karena bersedih) orang tua juga terhitung sebagai perbuatan durhaka, tangisan mereka berarti terkoyaknya hati, oleh polah tingkah sang anak. Ibnu Umar menegaskan: Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan yang besar (HR. Bukhari). Allah pun menegaskan dalam surat Al Isro bahwa perkataan uh atau ah terhadap orang tua saja dilarang apalagi yang lebih dari itu. Dalam ayat itu pula dijelaskan perintah untuk berbuat baik pada orang tua. Sekarang kita ketahui bersama apa arti penting dan keutamaan berbakti pada orang tua. Kita ingat kembali, betapa sering kita membuat marah dan menangisnya orang tua? Betapa sering kita tidak melaksanakan perintahnya? Memang tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, akan tetapi bagaimana sikap kita dalam menolak itupun harus dengan cara yang baik tidak serampangan. Bersegeralah kita meminta maaf pada keduanya, perlu kita ingat bahwa ridhanya Allah adalah ridhanya orang tua, murkanya Allah adalah murkanya orang tua, sakitnya Allah adalah sakitnya orang tua.

Poin penting di atas perlu kita renungkan dan hayati bersama dalam menyingkap rahasia di balik keberhasilan seseorang. Banyak orang yang menyepelekan akan hal ini, tapi banyak pula yang menjadikan orang tua sebagai suatu faktor penting dalam hidupnya, dan merekalah orang-orang yang selamat yang akan menemui kebahagiaan hakiki. Mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan nikmat dan karunia-Nya dikarenakan mereka telah berbakti dan memperlakukan orang tua dengan sebaik-baiknya. Seseorang yang beriman dan bertakwa tetapi tidak menghormati dan berbakti pada orang tua, maka sesungguhnya mereka tidaklah sempurna keimanannya. Ketika seorang anak yang mulai tumbuh dewasa memiliki cita-cita dan keinginan terhadap sesuatu, maka hendaknya mereka mendatangi orang tua terlebih dahulu, jika orang tua ridha maka Allah pun ridha. Sungguh tiada berguna bila mereka taat beribadah tetapi durhaka pada orang tua. Begitu mulianya kedudukan orang tua pada pandangan Allah, sehingga Allah selalu mengingatkan kita agar senantiasa berbakti kepada orang tua.

Bagaimana cara kita berbakti pada kedua orang tua kita? Banyak yang bisa kita lakukan, antara lain:

1.    Memberi kasih sayang. Kasih sayang adalah sebagai membalas kasih sayang yang selama ini telah dicurahkan ibu bapak. Kasih sayang ibu dan bapak tidak pernah padam terhadap anaknya. Jadi seharusnya kasih sayang itu dibalas dengan sebaik-baiknya.

2.    Berbicara dengan lemah lembut. Satu cara menjaga perasaan ibu bapak ialah berbicara lemah lembut dengan mereka. Suara hendaklah direndahkan dan jangan membantah permintaan mereka.

3.    Meluangkan waktu bersama-sama untuk berbicara dan saling tukar pendapat (curhat) dengan ibu bapak.

4.    Memenuhi permintaan. Ibu bapak seringkali memerlukan bantuan anak untuk melaksanakan sesuatu keperluan. Memenuhi permintaan ibu bapak perlu diutamakan dibanding melakukan tugas lain.

5.    Melakukan apa yang disukai. Ibu bapak sudah tentu mengharapkan anaknya melakukan sesuatu yang baik pada pandangan mereka. Melakukan suatu hal yang tidak sukai ibu bapak adalah perbuatan durhaka.

6.    Menghadiahkan prestasi. Ibu bapak senantiasa mengharapkan kesuksesan pada anak mereka. Anak hendaklah berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai prestasi/sukses agar menjadikan kegembiraan ibu bapak.

7.    Mendoakan kepada ibu bapak. Seperti yang tertuang dalam surat QS. Al Israa: 23-24: dan ucapkanlah kepada ibu-bapakmu perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan doakanlah: wahai Robb-ku, kasihanilah keduanya seperti keduanya telah mendidik aku di waktu aku kecil.

Semoga kita termasuk anak yang berbakti pada orang tua, semoga kita bisa memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya, semoga kita semua menjadi hamba-hamba pilihan-Nya dan semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, Amin.

Sekian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada salah kata saya mohon maaf.

Pantun

Berakit ke hulu dengan sekoci

Ketika hujan tiada henti

Mari kita capai prestasi

Sebagai bukti kita berbakti

Akhirul kalam, Wassalamualaikum wr wb.

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, Alhamdulillahirabbil Alamin, Wabihinastain Allaumuriddunyawaddin Wassholatuwassalamu ala sayyidil mursalin Waala alihi wasahbihi ajmaain, Amma Badu.

Dewan juri yang saya hormati, Bapak ibu guru yang saya hormati, hadirin hadirat yang berbahagia serta teman-temanku yang sangat saya sayangi.

Tiada kata yang pantas kita ucapkan, melainkan kata syukur ( Alkhamdulillahirabbil.alamin ) sebagai hamba yang lemah, yang dhoif, yang selalu lupa akan nikmat yang diberikannya.

Sholawat maas salam ( allahumma sholli ala Muhammad ) semoga terlimpahkan kepada junjungan kita nabi akhiriz zaman beliau adalah The best man in the world yaitu Nabi Agung Muhammad SAW. Yang selalu kita ikuti sunah risalahnya kita teruskan perjuangannya dan kita nantikan syafaatnya kelak di yaumul kiyamah. Amin allahumma amin.

Hadirin Hadirat rahimakumullah.

Setiap manusia sudah pasti memiliki orang tua. Tidak satupun manusia yang lahir tanpa orang tua. Maka kita harus menghormati orang tua kita.

Disamping memiliki orang tua, kita juga memiliki guru, guru adalah orang yang mengajarkan kepada kita tentang berbagai ilmu , betapa mulianya mereka, sehingga kita wajib berbakti kepada guru. Betul . ?

Maka dalam kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan pidato dengan judul Berbakti kepada orang tua dan guruTeman-teman. Ayo, bersyukur kepada Allah. Ayo, bersalawat kepada rasulullah. Dan ayo, berbakti kepada orang tua dan guru .

Teman-temanku, maukah kalian masuk surga? Ayo, mau tidak? Jika mau, begini caranya: Satu-satu hormati ibumu, dua-dua hormati ayahmu, tiga-tiga hormat ibu bapak guru, satu dua tiga jalan masuk surga.

Hadirin hadirat rahimakumullah.

Sebagai seorang Muslim kita wajib berbakti kepada kedua orang tua sebagaimana difirmankan Allah dalam surat An-Nisa ayat 36 yang berbunyi :

Wabudullaha wala tusyrikubihi syaian wabil wa lidaini ikhsanan.

Yang artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua

Ayat tadi memerintahkan kepada kita agar senantiasa menyembah Allah, dan berbuat baik kepada kedua orangtua kita.

teman-teman? Sebenarnya Siapa sih orang tua itu ?

Orang tua itu, orang yang telah melahirkan kita, orang yang mengasuh kita, orang yang telah mendidik dan membesarkan kita.betul? Kita tidak akan lahir kalau tidak ada bapak dan ibu, betul teman-teman? karena bapak dan ibulah yang menjadi lantaran kita lahir kedunia ini. Sehingga kita wajib berbakti kepada kedua orang tua kita.tapi apa kenyataannya . masih ada juga yang berani sama orang tua, membantah perintah orang tua. Tidak menghormati orang tua.teman-teman disini ada ndak yang masih berani sama orang tua hayo….? ada tidak..?. teman-teman Coba Bayangkan,

Bapak bapak kita sudah berusaha bersusah payah dengan sekuat tenaga dan fikiran ( dalam kata lain membanting tulang) untuk apa ? untuk apa coba ! untuk mencari nafkah, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan kita.

Ibu : Ibu yang telah mengandung kita. dengan susah payah selama 9 bulan 9 hari. Pahit getir rasanya. Namun apa. ibu tetap ikhlas sabar dan tawakal kepada Allah SWT

Ibu : ibu yang menyusui kita. selama 2 tahun sakit tidak dirasa lelah tidak dirasa.

Ibu : ibu yang merawat kita. membimbing kita dan memberikan segala kebutuhan hidup kita.demi apa coba ! Demi terlaksana cita-cita kita. ibu rela berkorban apa saja, makanya, kita sebagai seorang anak tidak sepantasnya membantah perintah orang tua.kita harus menghormati orang tua.

berikut merupakan nasehat nukilan tentang cara berbuat baik dan cara berbakti kepada orang tua. dan beberapa dari nukilan ini sering diambil referensi untuk kultum bulan ramadhan, atau juga untuk ceramah ceramah keagamaan yang sering membutuhkan referensi dari sumber Al quran dan hadist. sehingga apa yang tertulis dalam artikel ini yang kemudian republish di perkuliahan.com ini bisa dipakai untuk referensi pidato. kalau temen saya sering mengantinya untuk referensi kultum ramadhan yang juga tentunya dengan tema cara berbakti kepada kedua orang tua, atau cara memuliakan orang tua.

berikut ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh saudara seiman Marwan bin Musa sebagai berikut:

 Mencintai dan Sayang kepada Kedua Orang Tua

Seorang muslim menyadari bahwa kedua orang tuanya memiliki jasa yang besar terhadapnya, karena keduanya telah mengerahkan pikiran dan tenaga untuk menyenangkan anaknya. Oleh karena itu, meskipun seorang muslim telah mengerahkan segala kemampuannya dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, namun tetap saja ia belum dapat membalasnya.

Menaati  Kedua Orang Tua

Seorang muslim hendaknya menaati perintah kedua orang tuanya, kecuali apabila kedua orang tua menyuruh berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Taala. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman: 15)

Oleh karena itu, ketika Saad bin Abi Waqqash masuk Islam, ibunya mogok makan dan minum sampai Saad mau murtad dari agamanya, tetapi ia tetap di atas Islam dan tidak mau murtad, ia menolak taat kepada ibunya dalam hal maksiat kepada Allah, sampai ia berkata kepadanya, Wahai ibu, engkau (mesti) tahu, demi Allah, jika engkau memiliki seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku. Jika engkau mau silahkan makan atau tidak makan. Akhirnya ibunya makan.

 Menanggung dan Menafkahi Kedua Orang Tua

Seorang muslim juga hendaknya menanggung dan menafkahi orang tua agar ia memperoleh keridhaan Allah. Jika ia seorang yang berharta banyak, lalu orang tuanya butuh kepada sebagian harta itu, maka ia wajib memberikannya. Hal ini berdasarkan hadis berikut:

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa seseorang berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak, sedangkan bapakku ingin menghabiskan hartaku. Maka Beliau bersabda, Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu. (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Al Irwa (838) dan Ar Raudhun Nadhir (195 dan 603))

 Berbuat Baik Kepada  Kedua Orang Tua

Seorang muslim berusaha untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya meskipun keduanya non muslim. Asma binti Abu Bakar berkata, Ibuku pernah datang kepadaku dalam keadaan musyrik di masa Quraisy ketika Beliau mengadakan perjanjian (damai) dengan mereka, lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, aku berkata, Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku karena berharap (bertemu) denganku. Bolehkah aku sambung (hubungan) dengan ibuku? Beliau menjawab, Ya. Sambunglah (hubungan) dengan ibumu. (HR. Muslim)

Menjaga Perasaan Keduanya dan Berusaha Membuat Ridha  Kedua Orang Tua

Seorang muslim juga harus menjauhi ucapan atau tindakan yang menyakitkan hati orang tuanya meskipun sepele, seperti berkata Ah. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Israa: 23)

Hendaknya ia mengetahui, bahwa ridha Allah ada pada keridhaan orang tua, dan bahwa murka-Nya ada pada kemurkaan orang tua. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Ridha Allah ada pada keridhaan orang tua dan murka Allah ada pada kemurkaan orang tua. (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Abdullah bin Amr, dan Al Bazzar dari Ibnu Umar, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 3506)

 Tidak Memanggil  Kedua Orang Tua dengan Namanya

Seorang anak hendaknya memanggil orang tuanya tidak dengan namanya. Oleh karena itu, ia panggil bapaknya Abi dan ia panggil ibunya Ummi. Abu Hurairah radhiallahu anhu pernah melihat ada dua orang, lalu ia bertanya kepada salah satunya tentang hubungannya dengan yang satu lagi, ia berkata, Ia adalah bapakku. Maka Abu Hurairah berkata, Janganlah kamu panggil ia dengan namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan duduk sebelumnya. (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al Adabul Mufrad).

Tidak Duduk Ketika Keduanya Berdiri dan Tidak Mendahuluinya Dalam Berjalan

Tidaklah termasuk adab yang baik kepada kedua orang tua jika seorang anak duduk sedangkan ibu-bapaknya berdiri atau meluruskan kedua kakinya, sedangkan keduanya duduk di hadapannya, bahkan hendaknya ia memiliki adab yang baik di hadapannya dan merendahkan diri kepada keduanya. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS. Al Israa: 24)

Tidak Mengutamakan Istri dan Anak daripada Kedua Orang Tua

Hal ini berdasarkan hadits yang menyebutkan tentang tiga orang Bani Israil yang berjalan-jalan di gurun, lalu mereka terpaksa bermalam di gua. Ketika mereka masuk ke dalamnya, tiba-tiba ada sebuah batu besar yang jatuh dari atas gunung sehingga menutupi pintu gua itu, lalu mereka berusaha menyingkirkan batu tersebut, tetapi mereka tidak bisa, maka akhirnya mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal saleh yang pernah mereka lakukan.

Salah seorang di antara mereka berkata, Ya Allah, saya memiliki kedua orang tua yang sudah lanjut usia dan saya biasanya tidak memberi minuman kepada keluarga dan harta yang saya miliki (seperti budak) sebelum keduanya. Suatu hari saya pernah pergi jauh untuk mencari sesuatu sehingga saya tidak pulang kecuali setelah keduanya tidur, maka saya perahkan susu untuk keduanya, namun saya mendapatkan keduanya telah tidur dan saya tidak suka memberi minum sebelum keduanya baik itu keluarga maupun harta (yang aku miliki). Aku menunggu, sedangkan gelas masih berada di tanganku karena menunggu keduanya bangun sehingga terbit fajar. Keduanya pun bangun lalu meminum susu itu.

Ya Allah, jika yang aku lakukan itu karena mengharapkan wajah-Mu, maka hilangkanlah derita yang menimpa kami karena batu ini, yang lain juga menyebutkan amal saleh mereka yang ikhlas yang pernah mereka lakukan, sehingga batu besar itu pun bergeser dan mereka dapat keluar.

Mendoakan Keduanya Baik Mereka Masih Hidup atau Sudah Wafat

Demikianlah seharusnya sikap yang seharusnya dilakukan seorang muslim terhadap kedua orang tuanya, yakni banyak mendoakan kedua orang tuanya, dan itulah akhlak para nabi; mereka berbakti kepada kedua orang tuanya dan mendoakan kebaikan kepada mereka. Nabi Nuh alaihis salam pernah berdoa untuk orang tuanya sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Nuh: 28:

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. (QS. Nuh: 28)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Sesunguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga, lalu ia berkata, Karena apa ini? Lalu dikatakan kepadanya, Karena permintaan ampun anakmu untukmu. (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah 1598 dan Al Misykat 2354/tahqiq ke-2)

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim mendoakan ampunan untuk kedua orang tuanya, membayarkan hutang dan nadzarnya, dsb.

Berbuat Baik Kepada Kawan-kawan Orang Tua Setelah Orang Tua Telah Wafat

Dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar, bahwa seseorang dari kalangan Arab baduwi pernah ditemuinya di jalan menuju Mekah, lalu Abdullah mengucapkan salam kepadanya dan menaikkannya ke atas keledai yang ditungganginya dan memberikan sorban yang dipakainya kepadanya. Abdullah bin Dinar berkata: Kami pun berkata, Semoga Allah memperbaikimu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang Arab baduwi, mereka biasanya puas dengan perkara yang sedikit, lalu Abdullah berkata, Sesunggunya bapak orang ini adalah teman Umar bin Khaththab, dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya berbakti yang paling baik adalah ketika seorang anak menyambung hubungan dengan kawan-kawan bapaknya. (HR. Muslim)

NASKAH PIDATO

Tema Pidato : Keterbukaan dan Kejujuran

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah wasyukurillah waalla nikmatillah wassolatu wassalamu rosulillaha hamma badu

Kepada dewan juri yang saya hormati,

Kepada Bapak/Ibu Guru pendamping yang saya hormati,

Dan tidak lupa kepada semua teman-teman yang berbahagia,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena pada kesempatan ini kita masih diberi kesehatan lahir dan batin. Sehingga kita dapat menghadiri acara pada hari ini dan tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berpidato di sini.

Saya peserta dari SDN Tamanan akan berpidato dengan mengambil tema Keterbukaan dan Kejujuran.

Hadirin yang berbahagia,

Kata jujur adalah kata yang mudah diucapkan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Namun untuk dilaksanakan dan dibuktikan, hanya dapat dilakukan oleh sebagian kecil umat manusia.

Jujur merupakan sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap insani.

Mengapa demikian ?

Karena sifat jujur adalah modal utama dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari dan juga merupakan kunci keberhasilan serta kebahagiaan kita baik di dunia dan di akhirat. Nabi bersabda yang artinya Jujur adalah menunjukkan pada kebaikan dan kebaikan adalah menunjukkan jalan ke surga.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Walaupun Nabi mengatakan demikian, tapi masih banyak umatnya yang masih belum dapat melaksanakan kejujuran.

Tidak perlu jauh-jauh, dapat diambil contoh dari kegiatan anak pada kesehariannya.

Misalnya :

Disekolah pada saat jam pelajaran biasanya siswa ditanya oleh guru apakah siswa belajar tadi malam atau tidak. Dengan suara lantang dan serentak, siswa pasti menjawab kalau tadi malam belajar. Namun pada kenyataannya siswa tersebut tidak belajar, melainkan sibuk menonton acara di televisi.

Dan masih banyak contoh-contoh lain yang mencerminkan perilaku tidak jujur, tidak hanya siswa yang melakukannya, tapi banyak juga orangtua kita dan bahkan pejabat pun melakukkan ketidakjujuran atau kebohongan dengan menjual atas nama rakyat.

Apabila kebohongan ini dilaksanakan terus menerus dan menjadi kebiasaan yang melekat pada diri setiap umat manusia, maka akan terjadi kehancuran dan kegagalan di segala bidang.

Dan lebih fatal lagi seperti kata Nabi, bahwa kebohongan itu adalah menunjukkan keburukan dan keburukan menuju ke jalan neraka .

Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengajak kepada hadirin semuanya, marilah kita berbuat jujur. Jujur kepada orang lain, jujur kepada diri kita sendiri dan terlebih lagi jujur kepada Allah SWT.

Sebab kita tahu bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan ada balasannya di hadapan Allah SWT dan apabila kita melakukan kejujuran dan keterbukaan, insyaallah yang namanya perselisihan, kegagalan ataupun bencana dari Allah akan dijauhkan dari kehidupan kita oleh ridho Allah SWT.

Mari kita renungkan, analisa dan kita pikirkan pada diri kita masing-masing, sudahkah kita termasuk orang yang jujur?. Semoga kita termasuk orang yang jujur dan selalu mendapat rahmat Allah Yang Maha Penyayang. Aamiin.

Demikian pidato dari saya, semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

Jika ada jarum yang patah

Jangan disimpan dalam peti

Jika ada kata yang salah

Jangan disimpan dalam hati

Terima kasih atas perhatiannya dan saya akhiri dengan ucapan kalimat,

Bilahitaufik walhidayah, war ridho wal inayah

Wassalamualaikum Wr. Wb